SAMARINDA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur merilis data NTP April 2026 yang menunjukkan seluruh subsektor pertanian masih berada di zona untung. Angka 149,83 ini naik 1,24 persen dibandingkan Maret 2026, memperkuat indikator daya beli petani di perdesaan.
Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai menjelaskan, dari lima subsektor yang disurvei, dua di antaranya mencatat kenaikan bulanan. Subsektor perkebunan rakyat menjadi motor utama dengan lonjakan 2,24 persen, disusul hortikultura yang naik 0,87 persen.
BPS mencatat nilai tukar petani tanaman perkebunan rakyat (NTPR) mencapai 211,25 — jauh melampaui subsektor lainnya. Posisi ini mengonfirmasi bahwa petani kelapa sawit, karet, atau kakao di Kaltim menikmati margin keuntungan paling tebal dibanding petani padi, sayur, atau peternak.
Subsektor hortikultura berada di angka 120,17, peternakan 110,78, dan perikanan 105,98. Sementara subsektor tanaman pangan tercatat paling rendah dengan NTPP 101,44 — masih di atas ambang untung meski tipis.
Meski semua subsektor masih untung, tiga di antaranya mengalami penurunan NTP bulanan. Tanaman pangan turun 0,22 persen, peternakan minus 0,58 persen, dan subsektor perikanan terkoreksi 0,17 persen.
"Dari lima subsektor ini, terdapat dua subsektor mengalami kenaikan NTP, di antaranya subsektor tanaman perkebunan rakyat yang naik 2,24 persen. Kenaikan tinggi ini mampu mendongkrak kenaikan NTP secara keseluruhan," ujar Mas'ud Rifai di Samarinda, Senin.
BPS menetapkan angka 100 sebagai garis keseimbangan. NTP di bawah 100 berarti petani rugi, tepat 100 berarti pas-pasan, dan di atas 100 menandakan keuntungan. Semakin tinggi angka di atas 100, semakin kuat pula daya beli petani terhadap barang konsumsi dan biaya produksi.
Nilai tukar usaha pertanian (NTUP) Kaltim pada April juga ikut naik menjadi 156,3 atau tumbuh 0,79 persen dibanding Maret 2026. NTUP mengukur kemampuan petani membiayai produksi tanpa memperhitungkan konsumsi rumah tangga.
"NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif makin kuat pula tingkat daya beli petani," jelas Mas'ud.