KALIMANTAN TIMUR — Tekanan pada sektor kredit konsumer kian nyata. OJK mencatat pertumbuhan kredit konsumer per April 2026 hanya mencapai 6,13% secara tahunan (year on year). Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang masih tumbuh 6,58%.
Kenaikan harga BBM menjadi variabel baru yang memperburuk situasi. Di tengah daya beli yang sudah melemah, tambahan beban biaya transportasi dan logistik diprediksi membuat masyarakat semakin selektif dalam mengajukan kredit, termasuk untuk pembelian kendaraan bermotor dan barang konsumer lainnya.
Pelemahan pertumbuhan kredit konsumer bukan hanya soal permintaan yang turun. Dari sisi risiko, kenaikan BBM berpotensi mendorong kenaikan rasio kredit bermasalah. Rumah tangga dengan cicilan aktif harus mengatur ulang prioritas belanja ketika harga BBM naik.
OJK sebelumnya sudah mewaspadai tren perlambatan ini sejak awal tahun. Data OJK menunjukkan bahwa sepanjang 2025, pertumbuhan kredit konsumer memang sudah berada dalam tren melambat. Kenaikan BBM hanya mempercepat laju perlambatan tersebut.
Bagi industri otomotif, perlambatan kredit konsumer menjadi sinyal yang patut dicermati. Sebagian besar pembelian sepeda motor dan mobil baru di Indonesia masih mengandalkan pembiayaan. Jika akses kredit semakin ketat dan minat masyarakat menurun, penjualan unit baru berpotensi ikut tertekan.
Beberapa analis memperkirakan bahwa puncak dampak kenaikan BBM terhadap kredit konsumer baru akan terlihat pada kuartal III 2026. Saat itu, efek kenaikan harga sudah meresap penuh ke dalam pola belanja rumah tangga.
Belum ada pernyataan resmi dari asosiasi pembiayaan atau pabrikan otomotif mengenai langkah antisipasi. Namun, skema promo bunga ringan dan DP rendah diprediksi akan semakin gencar untuk menjaga daya tarik pasar.