SAMARINDA — Mayoritas peserta didik di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 dan 24 di Kalimantan Timur berasal dari kelompok rentan miskin. Banyak dari mereka sebelumnya menghadapi kendala pengasuhan di rumah akibat permasalahan keluarga yang pelik.
“Banyak siswa kami awalnya memiliki latar belakang lingkungan kurang mendukung, sehingga kesulitan memahami rutinitas kebersihan, namun kini mereka menunjukkan perubahan sikap luar biasa berkat aturan asrama,” kata Rabiatul di Samarinda, Senin.
Pihak sekolah menerapkan jadwal harian yang ketat bagi seluruh penghuni asrama. Setiap siswa wajib beristirahat pada pukul sembilan malam dan bangun tepat jam empat pagi untuk merapikan kamar serta beribadah.
“Kami secara konsisten menerapkan jadwal ketat dimana seluruh penghuni wajib beristirahat pada pukul sembilan malam dan bangun tepat jam empat pagi untuk merapikan kamar serta beribadah,” ujar Rabiatul.
Pembentukan etos disiplin ini ditunjang oleh kehadiran wali asuh yang bersiaga dengan sistem kerja bergilir selama 24 jam. Setiap satu tenaga pendamping bertanggung jawab membimbing tujuh hingga delapan anak agar interaksi dan pengawasan karakter berjalan maksimal.
“Setiap satu orang tenaga pendamping asrama memikul tanggung jawab besar untuk membimbing tujuh hingga delapan anak agar interaksi dan pengawasan karakter berjalan maksimal,” tuturnya.
Selain kepatuhan terhadap aturan waktu, pengelola asrama menanamkan nilai kemandirian lewat rutinitas gotong royong membersihkan fasilitas umum dan praktik berkebun setiap akhir pekan. Pihak sekolah juga menggandeng prajurit Tentara Nasional Indonesia untuk memberikan pelatihan ekstrakurikuler bela diri silat.
“Kami turut menggandeng prajurit Tentara Nasional Indonesia untuk memberikan pelatihan ekstrakurikuler bela diri silat demi menumbuhkan rasa patriotisme dan ketangguhan mental anak-anak,” kata Rabiatul.
Pembenahan kebiasaan hidup teratur ini juga mencakup jaminan asupan gizi sebanyak lima kali sehari yang ditanggung pemerintah. Tujuannya agar pertumbuhan fisik peserta didik terhindar dari kondisi stunting. Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 24 Samarinda, Hasyim, menambahkan aturan pembatasan penggunaan telepon seluler yang hanya diizinkan pada hari libur terbukti efektif membantu siswa memusatkan konsentrasi pada proses perbaikan diri.
“Harapan terbesar kami adalah seluruh fasilitas pengasuhan penuh ini sanggup memutus mata rantai kemiskinan sekaligus menyelamatkan masa depan anak-anak daerah,” kata Hasyim.