KALIMANTAN TIMUR — Saya berkesempatan mencoba langsung Halliday G2 beberapa pekan lalu. Dalam sesi hands-on singkat, satu hal langsung terasa: kacamata ini dibuat untuk satu skenario spesifik, yaitu meeting. Bukan untuk merekam video, bukan untuk navigasi AR, dan bukan untuk pamer gaya. Ini adalah alat produktivitas yang kebetulan berbentuk kacamata.
Halliday G2 dibanderol USD 599, atau setara sekitar Rp 9,6 juta. Harga ini sama dengan Even Realities G2 dan lebih murah USD 200 dari Meta Ray-Ban Display. Pre-order dibuka hari ini (21 Juli) di situs resmi Halliday. Kabar baiknya, cukup deposit USD 10 untuk mendapatkan potongan USD 100 saat pelunasan, sehingga harga efektif turun menjadi USD 499 atau sekitar Rp 8 juta.
Produk dijadwalkan mulai dikirim pada September 2026. Halliday juga mengonfirmasi bahwa G2 tersedia dengan lensa resep (prescription lenses), sehingga pengguna kacamata minus atau silinder tetap bisa memakainya.
Halliday G2 sengaja tidak dibekali kamera. Menurut perwakilan perusahaan, keputusan ini diambil agar lawan bicara lebih nyaman — meskipun G2 tetap bisa merekam audio. Dari segi bobot, G2 berada di bawah 50 gram, setara dengan Ray-Ban Meta (51 gram) dan Rokid Glasses (48 gram), tapi sedikit lebih berat dari Even Realities G2 yang hanya 35 gram. Dalam pemakaian singkat, kenyamanannya sebanding dengan kacamata biasa.
Layar G2 menggunakan dual micro-LED projector dengan resolusi 600 x 300 per mata dan kecerahan puncak 1.600 nits. Tampilannya monokrom hijau, mirip dengan Even Realities G2 atau Rokid Glasses, bukan layar warna penuh seperti Meta Ray-Ban Display. Bedanya dengan generasi pertama, G2 menampilkan informasi di depan kedua mata, bukan hanya di sisi kanan. Efeknya, gambar seperti melayang beberapa meter di depan, sehingga lebih natural saat dipakai ngobrol dengan orang lain.
Navigasi dilakukan melalui touchpad di temple kanan. Butuh adaptasi, tapi responsnya cukup cepat untuk swipe dan tap dasar.
Pembeda utama Halliday G2 dari smart glasses lain adalah fitur Meeting Flow. Ini adalah rangkaian fitur AI yang bekerja selama meeting berlangsung. Berikut rinciannya berdasarkan pengamatan saya:
Fitur-fitur ini jelas dirancang untuk menggantikan fungsi notepad atau perekam suara manual. Pertanyaan besarnya: seberapa akurat AI memahami konteks meeting yang kompleks? Itu belum bisa saya uji dalam sesi singkat.
Halliday G2 jelas bukan smart glasses untuk semua orang. Tanpa kamera, ia tidak bisa digunakan untuk foto, video, atau navigasi AR visual. Fokusnya sempit: membuat meeting lebih efisien. Bagi pekerja kantoran, konsultan, atau manajer yang menghabiskan 4-5 jam sehari di meeting, value proposition-nya jelas. Tapi bagi pengguna yang mencari perangkat multifungsi seperti Samsung smart glasses atau Meta Ray-Ban, G2 mungkin terasa terlalu terbatas.
Kelemahan yang perlu dipertimbangkan: harga Rp 9,6 juta (atau Rp 8 juta dengan diskon) terbilang mahal untuk perangkat yang hanya optimal di satu skenario. Belum lagi, fitur Meeting Flow sangat bergantung pada kualitas AI Halliday — jika akurasinya mengecewakan, seluruh nilai produk ini luntur. Saya juga belum bisa memverifikasi daya tahan baterai dan performa transkripsi di ruangan bising.
Keputusan akhir baru bisa saya berikan setelah unit retail dirilis pada September nanti. Tapi satu hal yang pasti: Halliday G2 berani mengambil posisi yang tidak biasa, dan itu patut diapresiasi di tengah hiruk-pikuk smart glasses yang kebanyakan mencoba melakukan segalanya.