Karhutla Kaltim: Stok Masker Terbatas, Dinkes Siapkan 20 Rumah Oksigen dan 128 Tabung Portabel

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Senin, 07 September 2026 | 16:01:01 WIB
Dinkes Kaltim menyiapkan 20 rumah oksigen dan 128 tabung portabel untuk antisipasi dampak karhutla.

SAMARINDA — Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menegaskan tidak ada fasilitas kesehatan yang rusak maupun mengalami disrupsi layanan akibat karhutla. Namun, pernyataan itu tidak serta-merta menutup celah yang masih mengintai di tengah kondisi yang disebutnya terkendali tersebut.

"Tidak ada fasilitas kesehatan yang rusak maupun mengalami disrupsi layanan akibat karhutla," kata Jaya saat dikonfirmasi, Senin (7/9).

Keterbatasan Masker dan Alat Pantau Kualitas Udara

Salah satu persoalan yang diakui adalah keterbatasan stok masker dan APD. Kondisi ini dinilai berisiko meningkatkan paparan asap, terutama bagi masyarakat di wilayah terdampak dan kelompok rentan.

Di sisi lain, keterbatasan anggaran pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) membuat informasi kualitas udara luar ruangan belum tersedia secara berkala di seluruh wilayah. Dinkes pun mendorong optimalisasi Sanitarian Kit untuk pemantauan PM2.5 sebagai upaya memperkuat informasi di lapangan.

Tim Gerak Cepat Disiapkan untuk Jangkau Wilayah Terpencil

Karakter geografis Kaltim yang luas membuat layanan penjangkauan tidak selalu mudah. Saat ini layanan di sejumlah wilayah masih cenderung bersifat pasif melalui puskesmas.

Untuk mengantisipasi kondisi memburuk, Dinkes merekomendasikan pembentukan Tim Gerak Cepat (TGC) di tingkat puskesmas dengan melibatkan kader dan relawan. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat akses layanan bagi masyarakat terdampak di daerah terpencil.

Sebaran 20 Rumah Oksigen di 10 Kabupaten/Kota

Dinkes Kaltim menyiapkan kapasitas tambahan melalui Rumah Oksigen yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Fasilitas ini berfungsi sebagai ruang perawatan cadangan apabila terjadi peningkatan kasus ISPA, asma, maupun gangguan pernapasan lainnya.

Berau mendapat jatah terbanyak dengan empat titik, yakni Puskesmas Sambaliung, Puskesmas Teluk Bayur, Puskesmas Campursari, dan Puskesmas Pulau Derawan. Kutai Timur menyusul dengan tiga titik di Puskesmas Sangkulirang, Puskesmas Muara Wahau, dan RSUD Kudungga.

Kutai Kartanegara juga mendapat tiga titik melalui Puskesmas Kota Bangun, Puskesmas Kembang Janggut, dan RSUD A.M. Parikesit. Dua titik masing-masing disiapkan di Paser (Puskesmas Tanah Grogot dan RSUD Panglima Paser) serta Penajam Paser Utara (Puskesmas Penajam dan RSUD Sepaku).

Kutai Barat mendapat dua titik di Puskesmas Barong Tongkok dan RSUD Harapan Insani. Adapun Samarinda, Balikpapan, Bontang, dan Mahakam Ulu masing-masing memiliki satu titik, yakni RSUD A.W. Sjahranie, RSUD Kanujoso Djatiwibowo, RSUD Taman Husada, dan Puskesmas Ujoh Bilang.

Dukungan Logistik dan Ancaman di Mahakam Ulu

Untuk menopang operasional Rumah Oksigen, Dinkes menyiapkan 128 tabung oksigen portabel berukuran 1 meter kubik dan 64 tabung oksigen besar berkapasitas 6 meter kubik. Sebanyak 197 set buffer stock regulator dan nasal cannula juga disiapkan, sementara ribuan masker telah didistribusikan ke kecamatan terdampak.

Ancaman kesehatan yang dihadapi Kaltim tidak hanya berasal dari asap. Di Mahakam Ulu, surutnya Sungai Mahakam akibat kekeringan fluvial mengganggu jalur transportasi utama menuju Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, termasuk distribusi obat-obatan dan logistik kesehatan.

Berkurangnya ketersediaan dan kualitas air bersih turut meningkatkan risiko penyakit kulit serta gangguan pencernaan di kawasan pedalaman. Dinkes merespons dengan menyiapkan obat-obatan pernapasan, cairan infus, vitamin, serta sarana pemurnian air melalui klorinasi.

Dinkes Kaltim juga mengaktifkan sistem pelaporan cepat Event Based Surveillance (EBS) melalui SKDR dan SIPKK, serta kanal Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) untuk memantau perkembangan kasus dan mendeteksi potensi kejadian sedini mungkin.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: eksposkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top