TENGGARONG — Ancaman musim kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir mengakibatkan keterbatasan akses air yang menghambat masa tanam baru sekaligus melambungkan biaya operasional petani.
Ketua Kelompok Tani Kelurahan Bukit Biru, Suwarman, mengungkapkan bahwa sebagian besar lahan pertanian kini belum bisa digarap kembali. Para petani terpaksa menunda persemaian karena sepenuhnya mengandalkan air hujan, sementara sumber air alternatif hanya menjangkau sebagian kecil area.
Kondisi ini diperparah dengan evaluasi hasil panen terakhir sekitar dua pekan lalu. Petani harus merogoh kocek lebih dalam karena kendala teknis di lapangan yang tidak memungkinkan penggunaan teknologi pertanian modern secara maksimal.
Suwarman menjelaskan, kondisi sawah yang tidak ideal membuat mesin pemanen (combine harvester) sulit dioperasikan. Pada beberapa titik, alat berat tersebut justru tenggelam di lahan yang berlumpur tidak stabil, sehingga petani terpaksa kembali ke metode panen manual.
"Kalau pakai mesin biasanya lebih ringan, tapi kemarin banyak yang tidak bisa karena alat tenggelam. Terpaksa panen manual dan biaya bisa naik dua kali lipat," kata Suwarman, Minggu (12/5/2024).
Kenaikan biaya ini menjadi beban berat bagi petani di tengah ketidakpastian cuaca. Saat ini, hanya petani di dekat sumber air yang sudah mulai melakukan persemaian, sementara petani di wilayah daratan tinggi masih pasif menunggu hujan turun untuk memulai siklus tanam berikutnya.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) merespons situasi ini dengan menerjunkan tim ke lapangan. Langkah ini diambil untuk memetakan luasan lahan yang terdampak kekeringan serta mengidentifikasi kebutuhan mendesak para petani.
Plt Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, menyatakan bahwa para penyuluh pertanian telah diinstruksikan untuk mendata kondisi riil di Bukit Biru. Data tersebut nantinya akan menjadi basis pengajuan bantuan sarana prasarana ke pemerintah pusat.
"Kalau kebutuhan sudah terpetakan, kami segera usulkan ke pusat. Bantuan seperti pompa memang tersedia untuk penanganan kondisi seperti ini," jelas Rifani.
Rifani menambahkan, pihaknya masih optimis peluang produksi tetap ada jika bantuan teknis seperti pompa air dapat segera didistribusikan. Distanak terus memantau dinamika cuaca hingga akhir Mei untuk memastikan langkah mitigasi gagal panen berjalan efektif.
Meskipun bantuan pompa air telah beberapa kali dikucurkan, para petani menilai solusi tersebut bersifat jangka pendek. Kapasitas air dari sumur bor yang tersedia saat ini dianggap belum mampu mencukupi kebutuhan pengairan untuk skala lahan yang luas di Bukit Biru.
Kawasan Bukit Biru sendiri merupakan salah satu lumbung pangan di Tenggarong dengan total 23 kelompok tani. Jumlah tersebut terdiri dari 19 kelompok tani padi, tiga kelompok petani sayur, dan dua Kelompok Wanita Tani (KWT).
"Pompa air sudah dicoba, tapi air cepat habis. Jadi belum bisa jadi solusi utama. Kami berharap ada pembangunan waduk atau penampungan air yang benar-benar bisa dimanfaatkan saat kemarau," tutur Suwarman.
Berbeda dengan komoditas padi, sektor sayuran seperti gambas dan sawi di wilayah ini relatif lebih bertahan. Hal ini disebabkan area tanam sayur mayoritas berada di sekitar parit yang masih menyimpan cadangan air lebih stabil dibandingkan lahan persawahan terbuka.