Pemerintahan Trump dikabarkan tengah menyiapkan Perintah Eksekutif yang mewajibkan perusahaan teknologi besar menyerahkan model AI paling kuat untuk diperiksa pemerintah sebelum diluncurkan. Langkah ini diambil setelah muncul kekhawatiran terkait kemampuan siber model Claude Mythos milik Anthropic yang dianggap mengancam infrastruktur kritis. Kebijakan ini menandai pergeseran status AI dari sekadar alat teknologi menjadi aset keamanan nasional strategis.
Era "move fast and break things" di industri kecerdasan buatan tampaknya akan segera berakhir. Laporan terbaru dari New York Times mengindikasikan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak lagi memandang AI sebagai produk komersial biasa. Melalui rencana Perintah Eksekutif yang sedang digodok, pemerintah ingin memastikan setiap model AI skala besar (frontier models) melewati proses audit ketat sebelum menyentuh tangan pengguna umum.
Kekhawatiran Washington memuncak setelah rilis terbatas Claude Mythos, model terbaru dari Anthropic. Meski dirancang untuk memperkuat pertahanan siber, pejabat federal justru menemukan risiko fatal pada kemampuan otonomnya. Model ini dilaporkan mampu menemukan dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak yang tidak dapat diperbaiki (unpatchable) pada infrastruktur kritis negara.
Kemampuan Claude Mythos dianggap melampaui batas keamanan yang selama ini bisa ditoleransi oleh regulator. Para ahli di pemerintahan menyebut level kemahiran siber model ini "menakutkan" karena bisa disalahgunakan untuk melumpuhkan sistem vital. Hal inilah yang mendorong urgensi standarisasi proses pengujian sebelum teknologi serupa dilepas ke pasar global, termasuk aksesnya dari Indonesia.
Ada tiga faktor utama yang mendasari perubahan sikap drastis pemerintahan Trump terhadap industri AI saat ini:
Pekan lalu, pejabat tinggi Gedung Putih dilaporkan telah bertemu dengan para petinggi industri, termasuk Sundar Pichai (Google), Sam Altman (OpenAI), dan Dario Amodei (Anthropic). Pertemuan ini membahas pembentukan "kelompok kerja" yang dipimpin oleh pemerintah. Fokus utamanya adalah menciptakan proses red-teaming standar, di mana pakar federal akan melakukan audit mendalam terhadap kemampuan sebuah model sebelum izin rilis diberikan.
Jika aturan ini diteken, kecepatan inovasi AI yang selama ini berjalan sangat kencang dipastikan akan melambat. Konsumen kemungkinan besar akan merasakan jeda waktu yang lebih lama untuk mencicipi pembaruan model versi "Pro" atau "Ultra". Keamanan kini menjadi harga mati yang harus dibayar dengan mengorbankan kecepatan distribusi fitur-fitur terbaru ke publik.
Langkah proteksionisme teknologi ini memicu perdebatan hangat di kalangan analis industri. Sebagian pihak menilai vetting pemerintah akan meningkatkan reliabilitas dan keamanan sistem bagi perusahaan dan institusi. Namun, para kritikus memperingatkan risiko kehilangan dominasi teknologi dari pesaing internasional seperti Deepseek asal China yang mungkin tidak terikat regulasi seketat itu.
Dunia AI diprediksi akan terbelah menjadi dua jalur. Jalur pertama berisi model-model bersertifikat pemerintah yang "aman" untuk penggunaan bisnis dan institusi formal. Jalur kedua merupakan jalur yang kurang teregulasi bagi pehobi dan pengguna tingkat lanjut. Pada akhirnya, kontrol ketat ini menjadi eksperimen besar AS dalam menyeimbangkan antara kepemimpinan inovasi dan stabilitas keamanan nasional.