TANJUNG REDEB — Infrastruktur transportasi yang mulus membawa dampak langsung pada sektor pariwisata Kabupaten Berau. Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Timur Syarifatul Sya'diah mencatat peningkatan signifikan sejak Jembatan Nibung dan jalur pesisir ditingkatkan oleh pemerintah provinsi.
Efek nyata terlihat dari angka pengunjung. Sebelumnya, daerah pesisir Berau hanya dikunjungi sekira 30 ribu wisatawan dalam periode tertentu. Kini angka tersebut melonjak tiga kali lipat menjadi 90 ribu orang, didorong kemudahan aksesibilitas dan efisiensi biaya perjalanan.
Kemudahan transportasi menjadi kunci utama. Dulu, warga harus membayar Rp200–250 ribu untuk penyeberangan dan menghadapi antrian panjang. Sekarang, pengunjung dari Kutai Timur, Bontang, hingga Samarinda dapat mengakses pesisir Berau dengan jauh lebih mudah dan hemat biaya.
"Kami berterima kasih kepada pihak provinsi atas penyelesaian akses jalan menuju pesisir yang kini kondisinya sudah mulus. Ini efek luar biasa dari dibukanya Jembatan Nibung," ujar Syarifatul.
Namun kesuksesan infrastruktur jalan ini diimbangi oleh tantangan lingkungan yang semakin mendesak. Syarifatul mengingatkan bahwa pengikisan pantai (abrasi) di Pulau Maratua dan Pulau Derawan telah mencapai tahap mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan segera dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Di Maratua, abrasi sudah menyentuh bibir pantai yang menjadi lokasi satu-satunya sumber air bersih bagi warga setempat. Persoalan ini telah disampaikan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), namun pelaksanaan mitigasi masih terhambat.
"Masalah abrasi ini sudah kami sampaikan dalam RKPD. Di Maratua, abrasi sudah menyentuh bibir pantai yang menjadi lokasi satu-satunya sumber air bersih bagi warga," tutur politisi perempuan ini, menekankan bahwa penanganan pantai adalah ranah kewenangan provinsi yang memerlukan dukungan anggaran memadai.
Syarifatul menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat agar kendala birokrasi tidak menghalangi eksekusi proyek di lapangan. Terlepas dari lembaga mana yang memegang kewenangan, prioritas utama adalah ketersediaan anggaran dan kelancaran implementasi.
"Ke depan, yang terpenting adalah sinkronisasi. Terlepas dari siapa pemegang kewenangannya, yang utama adalah anggarannya tersedia dan proyek bisa terlaksana. Ini demi kenyamanan wisatawan dan keberlangsungan pariwisata Berau," pungkasnya.
Jembatan Nibung direncanakan selesai total pada akhir tahun 2024, yang diharapkan akan memperkuat konektivitas dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lokal secara masif.