SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur optimistis mampu melepaskan ketergantungan pasokan beras dari Sulawesi dan Jawa Timur pada akhir 2026 mendatang. Target tersebut didorong oleh peningkatan signifikan angka swasembada pangan daerah yang kini telah menyentuh angka 60 persen.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, mengungkapkan bahwa capaian saat ini melonjak drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berada di angka 30 persen. Untuk menutup sisa kebutuhan, pemerintah daerah telah menyiapkan program strategis di sektor hulu.
“Tahun depan kita akan upayakan mencapai 100 persen swasembada. Untuk itu ada 20 ribu hektare cetak sawah baru tahun ini yang akan dikerjakan,” kata Seno Aji saat memberikan keterangan terkait peta jalan pangan daerah.
Langkah menuju kemandirian pangan ini melibatkan pemetaan potensi di berbagai kabupaten. Wilayah seperti Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser, Berau, Kutai Timur, hingga Mahakam Ulu diidentifikasi memiliki keunggulan kompetitif, baik pada sektor pertanian padi maupun hortikultura.
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kaltim, Gerardus Budisatrio Djiwandono, menekankan pentingnya sinergi antara program pusat dan daerah untuk mengawal potensi tersebut. Saat meninjau gudang Bulog di Samarinda pada Jumat (8/5/2026), ia menyoroti perlunya kesinambungan infrastruktur pendukung.
“Kami ingin memastikan ketersediaan stok komoditas penting yang diperlukan oleh masyarakat di Kalimantan Timur, seperti beras, minyak goreng, dan lain sebagainya,” ujar Budisatrio usai menerima paparan kondisi ketahanan pangan terkini.
Selain fokus pada produksi di sawah, penguatan sisi hilir melalui distribusi menjadi prioritas. Budisatrio mendorong percepatan perbaikan infrastruktur Bulog agar proses penyerapan hasil panen petani lokal bisa berjalan lebih efektif dan menjaga stabilitas harga di pasar.
Pemerintah bersama Bulog saat ini tengah merencanakan pembangunan gudang-gudang baru di sejumlah titik strategis. Fasilitas penyimpanan ini rencananya akan dibangun di Kabupaten Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, Berau, serta menyusul di Kutai Timur.
“Kami mendapatkan masukan terkait percepatan dan perbaikan infrastruktur Bulog yang sangat dibutuhkan agar ketahanan pangan di Kaltim bisa lebih baik lagi,” tutur Budisatrio.
Ia juga mengapresiasi kinerja Bulog Kanwil Kaltimra yang dinilai aktif melakukan intervensi pasar. Langkah tersebut dianggap krusial untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses pangan dengan harga terjangkau di tengah upaya daerah mengejar target swasembada penuh.