BONTANG — Kawasan pesisir Berbas Pantai mulai bertransformasi menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif melalui gelaran Festival Nelayan Kampung Bawis pada Sabtu, 9 Mei 2026. Kegiatan ini tidak lagi sekadar perayaan tahunan, melainkan diproyeksikan sebagai ruang promosi produk kuliner khas yang mampu mendongkrak kesejahteraan warga lokal.
Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, memberikan dukungan penuh agar festival ini masuk dalam agenda serius pengembangan ekonomi kreatif (Ekraf). Menurutnya, karakteristik Kampung Bawis sebagai pemukiman nelayan adalah identitas kuat yang bisa dikelola secara profesional.
“Festival seperti ini bagus karena melibatkan langsung masyarakat dan potensi lokal yang mereka miliki. Tinggal bagaimana ke depan dikembangkan lebih serius supaya benar-benar berdampak pada ekonomi warga,” kata Andi Faiz usai menghadiri kegiatan tersebut.
Dalam festival tersebut, sedikitnya 16 kelompok peserta menampilkan kreativitas mereka dalam mengolah ikan bawis. Menu yang disajikan sangat beragam, mulai dari olahan tradisional seperti pepes bawis, bawis sambal matah, hingga bawis kuah kemangi.
Tidak hanya menu tradisional, warga juga mulai merambah pasar modern dengan menciptakan risoles dan bola-bola berbahan dasar ikan bawis. Andi Faiz menilai inovasi semacam ini adalah kunci agar nelayan tidak lagi bergantung pada penjualan hasil laut dalam bentuk mentah.
“Kalau produk lokal bisa diolah lebih kreatif, tentu nilai ekonominya juga meningkat. Ini yang perlu terus kita dorong supaya masyarakat punya peluang usaha yang lebih luas,” ujar Andi Faiz. Ia juga mengapresiasi lomba balap ketinting dan karaoke yang memperkuat pelibatan masyarakat pesisir.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispopar Bontang, Doddy Rosdian, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menyatukan unsur budaya pesisir dengan sektor ekonomi. Ikan bawis dipilih karena merupakan hasil laut paling identik dan ikonik dari kawasan Berbas Pantai.
“Ini salah satu upaya kami menggali potensi ekonomi kreatif yang bisa disinergikan dengan budaya masyarakat sekitar dan potensi lokal yang ada,” jelas Doddy.
Ke depan, Pemkot Bontang membuka peluang untuk mendaftarkan produk olahan tersebut sebagai kekayaan intelektual. Langkah ini diambil jika produk turunan ikan bawis telah memiliki identitas dan orisinalitas yang kuat di tengah masyarakat.
“Kami berharap muncul orisinalitas dan kreativitas baru dari masyarakat. Kalau nanti ada produk khas yang benar-benar kuat identitasnya, tentu akan kita dorong untuk didaftarkan sebagai kekayaan intelektual,” pungkasnya.