KUTAI KARTANEGARA — Panen perdana ini menjadi bukti awal bahwa lahan di bawah kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) bisa dimanfaatkan untuk ketahanan pangan tanpa merusak ekosistem. Proses budidaya padi darat ini berlangsung selama lima bulan, mulai dari penanaman benih hingga perawatan, dan dilakukan tanpa teknik pembakaran lahan—sesuai arahan pemerintah.
Pimpinan PT Silva Rimba Lestari, Syaeful Rochman, menyebut panen ini sebagai simbol hubungan harmonis antara perusahaan dan warga sekitar. "Hari ini kita panen padi. Ke depan, kalau memungkinkan, kita bisa variasikan program MUK ini dengan komoditas lain, misalnya jagung, buah-buahan, ternak, atau sebagainya," ujarnya di lokasi.
Skema MUK sendiri dirilis PT SRL sejak Desember 2025. Relation & Partnership PT SRL, Tendo Sihite, menambahkan bahwa teknik budidaya yang diterapkan sudah mengikuti standar pemerintah, terutama dalam hal pembukaan lahan tanpa bakar. "Pascapanen ini kami akan mengevaluasi dan akan berimprovisasi kembali," kata Tendo.
Kepala UPTD KPHP Sub DAS Belayan, M. Fitriady, mengapresiasi langkah PT SRL. Menurutnya, belum banyak pemegang PBPH di Kalimantan Timur yang menjalankan program MUK. "Kami dari KPHP Sub DAS Belayan sangat mendukung dan siap berkolaborasi terhadap program-program MUK seperti ini," ujar Fitriady.
Kepala Desa Pulau Pinang, Tadius, juga menyambut baik kolaborasi ini. Ia menekankan bahwa mayoritas warganya adalah petani dan peladang. "Semoga kolaborasi ini ke depan bisa semakin ditingkatkan," tuturnya.
Ketua Poktan Lintang Pukank, Charles, yang hadir bersama anggota kelompoknya, berharap program MUK tidak berhenti di panen perdana. "Berharap ke depan program ini bisa terus berjalan sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat," ucap Charles.
Kegiatan panen perdana ini turut dihadiri perwakilan Dinas Pertanian Kutai Kartanegara, Koordinator BPP Kecamatan Kembang Janggut, Penyuluh Pertanian Lapangan, serta jajaran manajemen PT SRL. Rangkaian acara diakhiri dengan makan bersama di lokasi sawah.