SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama PT PLN (Persero) mempercepat perluasan akses kelistrikan ke kawasan tertinggal. Dari total 72 desa yang belum teraliri listrik, sebanyak 27 desa masuk dalam intervensi tahun ini.
“Saat ini masih terdapat 72 desa yang belum teraliri listrik, PLN mengintervensi 27 desa pada tahun ini sehingga menyisakan 45 desa,” kata Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto di Samarinda, Selasa.
Desa-desa yang tersisa merupakan kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kaltim. Kondisi geografis yang ekstrem membuat jaringan listrik konvensional PLN sulit masuk.
Sebagai solusi, Pemprov Kaltim menyiapkan program pra-PLN menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Langkah ini dianggap paling efektif untuk menjangkau wilayah terisolasi tanpa harus membangun infrastruktur kabel jarak jauh.
Saat ini, total kapasitas listrik gabungan Kaltim dan Kalimantan Utara mencapai 1.086 Megawatt (MW) dengan beban puncak 928 MW. Artinya, masih ada cadangan daya sebesar 154 MW untuk menopang kebutuhan rumah tangga, bisnis, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Bambang menambahkan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 MW tengah digarap. Proyek ini diproyeksikan mampu mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan daya sebesar 6,1 persen yang didorong sektor rumah tangga, smelter, dan IKN.
Meski ada proyek energi bersih, realitas di lapangan menunjukkan 40 persen sumber pembangkit PLN masih memakai mesin diesel. Sisanya, 60 persen pasokan listrik dipasok oleh Independent Power Producer (IPP).
“Kehadiran operasional PLTA Batoq Kelo juga diproyeksikan dapat meningkatkan bauran energi bersih sekaligus mendukung target penurunan konsumsi batu bara hingga 2045,” ujar Bambang.
Warga di 45 desa tersisa masih mengandalkan penerangan seadanya, seperti lampu minyak atau genset pribadi. Program PLTS dari Pemprov diharapkan menjadi jembatan sebelum jaringan PLN benar-benar masuk.
Selain desa, masih ada sejumlah dusun di Kaltim yang sama sekali belum pernah menikmati akses listrik. Pemerintah menargetkan tidak ada lagi wilayah gelap gulita dalam beberapa tahun ke depan.
Proses perluasan jaringan dan pemasangan PLTS di 27 desa ditargetkan rampung sepanjang 2026. Setelah itu, Pemprov akan fokus pada 45 desa lain dengan skema pendanaan dan teknologi yang disesuaikan dengan medan.