Bagi pengguna yang mulai jenuh dengan pendekatan Google Photos yang mengutamakan cloud dan fitur AI, ada kabar baik. Tiga aplikasi open source menawarkan solusi pengelolaan galeri foto yang sepenuhnya lokal, privat, dan bebas dari iklan.
Google Photos memang nyaman dengan penyimpanan cloud dan fitur pencarian berbasis AI. Namun, model ini berarti data foto pengguna diproses di server Google. Bagi sebagian orang, terutama yang peduli privasi, ini jadi kekhawatiran tersendiri.
Ketiga aplikasi alternatif ini hadir dengan pendekatan berbeda: semua data tetap di perangkat pengguna. Tidak ada unggahan otomatis ke server, tidak ada analisis AI dari pihak ketiga, dan tidak ada iklan yang mengganggu.
Salah satu dari tiga aplikasi itu disebut sebagai pengganti galeri bawaan yang paling memuaskan. Aplikasi ini menawarkan pengalaman browsing foto yang cepat, dengan dukungan format file yang luas dan fitur pengeditan dasar yang mumpuni.
Keunggulan utamanya adalah tidak perlu koneksi internet untuk melihat, mengatur, atau mengedit foto. Semua proses berjalan di perangkat, membuatnya ideal untuk pengguna dengan data terbatas atau yang sering bepergian ke area tanpa sinyal.
Aplikasi kedua fokus pada kemampuan pencarian offline. Meski tanpa koneksi cloud, aplikasi ini tetap bisa mengindeks foto berdasarkan metadata seperti tanggal, lokasi, atau tag yang diberikan pengguna secara manual.
Aplikasi ketiga menonjol dalam manajemen album dan organisasi folder. Pengguna bisa membuat album cerdas berdasarkan aturan tertentu, seperti "semua foto yang diambil di Jakarta pada 2024". Semua pengaturan ini diproses di perangkat tanpa mengirim data ke mana pun.
Bagi pengguna di Indonesia, di mana biaya data seluler masih menjadi pertimbangan, aplikasi offline semacam ini menawarkan keuntungan ganda. Tidak perlu menghabiskan kuota untuk menyinkronkan foto ke cloud, dan privasi data lebih terjamin.
Ketiga aplikasi ini tersedia gratis di repositori open source seperti F-Droid atau GitHub. Beberapa juga bisa diunduh dari Google Play Store, meski versi dari repositori resmi biasanya lebih update dan tanpa pelacakan.
Meski tidak memiliki fitur pencarian AI sehebat Google Photos, ketiga aplikasi ini membuktikan bahwa pengelolaan foto yang privat dan offline bukan lagi sekadar mimpi. Bagi yang sudah mencoba, banyak yang mengaku tidak akan kembali ke layanan cloud. Seperti satu pengguna mengatakan, "Saya sudah beralih, dan tidak akan pernah kembali."