Pencarian

AMSI Dorong Media Lokal di Kalimantan Timur Perkuat Jurnalisme Hyperlocal dan Cari Alternatif Iklan Pemerintah

Senin, 15 Juni 2026 • 15:03:31 WIB
AMSI Dorong Media Lokal di Kalimantan Timur Perkuat Jurnalisme Hyperlocal dan Cari Alternatif Iklan Pemerintah
Wakil Ketua AMSI dorong media lokal Kaltim cari sumber pendapatan alternatif di luar iklan pemerintah.

SAMARINDA — Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Upi Asmaradhana menilai media lokal di Kalimantan Timur perlu segera mencari sumber pendapatan alternatif di luar iklan pemerintah. Ia menyebut ketergantungan pada satu sumber pendapatan membuat industri pers rentan terhadap gejolak kebijakan fiskal, seperti efisiensi anggaran yang terjadi saat ini.

Mengapa Media Lokal Tidak Boleh Bergantung pada Satu "Kue" Saja?

Upi menekankan bahwa model bisnis yang hanya mengandalkan belanja iklan dari instansi pemerintah sudah tidak lagi relevan. “Jangan bergantung sama satu kue saja. Media harus memperluas jejaring dan mencari berbagai cara agar tetap berkelanjutan,” ujarnya di Samarinda.

Menurutnya, momentum efisiensi anggaran justru harus dimanfaatkan sebagai titik balik. “Kalau bergantung kepada satu pihak saja, pemerintah misalnya, tentu akan sulit. Sekarang budget iklan berkurang, ada efisiensi, dan itu pasti berdampak. Tapi ini bukan akhir dari semuanya,” kata Upi.

Hyperlocal: Kekuatan yang Tak Dimiliki Media Nasional

Upi menilai kekuatan utama media lokal justru terletak pada kedekatannya dengan komunitas. Ia mendorong agar konten yang diproduksi tidak sekadar meniru media nasional, tetapi menggali potensi lokal secara mendalam.

“Kekuatan media lokal itu ada di hyperlocal. Jadi dia melayani pembacanya, komunitasnya, masyarakatnya untuk kebutuhan-kebutuhan masyarakat komunitasnya itu sendiri,” jelasnya. Ia menambahkan, karya jurnalistik yang dihasilkan sebaiknya bercerita tentang kondisi di Kalimantan Timur, mulai dari kuliner, budaya, sejarah, hingga kisah orang-orang di daerah.

Jurnalisme Orisinal, Bukan Sekadar Copy-Paste

Upi juga mengingatkan agar media lokal tidak terjebak pada praktik salin-tempel konten. Menurutnya, praktik semacam itu akan menggerus kepercayaan pembaca dan membuat media ditinggalkan.

“Konten-konten yang dibuat harus original. Silakan berkreasi, tetapi benar-benar diproduksi sendiri. Jangan copy paste, karena itu pasti akan ditinggalkan pembaca,” tegasnya.

Ia menyarankan agar media terlebih dahulu memahami kebutuhan masyarakat sebelum menentukan arah produksi konten. “Pahami dulu apa kebutuhan pembacanya, apa kebutuhan masyarakat di sini. Itu yang kemudian dirumuskan, sehingga kontennya selalu relevan dan media menjadi kebutuhan utama, bukan hanya suplemen,” katanya.

Dari Kedekatan dengan Audiens, Muncul Model Pendapatan Baru

Menurut Upi, semakin kuat keterikatan media dengan audiens lokal, semakin besar peluang media tersebut menjadi kebutuhan masyarakat. Dari hubungan itu, model pendapatan baru dapat tumbuh, seperti sistem berlangganan, sponsor, kerja sama komunitas, hingga penguatan jaringan.

“Kalau media sudah melekat dengan audiensnya, masyarakat akan membutuhkan media itu. Model pendapatannya pun akhirnya bisa berkembang dalam berbagai bentuk,” pungkasnya. (*)

Bagikan
Sumber: beritaalternatif.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks