KALIMANTAN TIMUR — Pemerintah Amerika Serikat memerintahkan Anthropic untuk membatasi ekspor dua model kecerdasan buatan (AI) terkuatnya, Fable dan Mythos, pada Jumat pekan lalu. Alasan keamanan nasional disebut sebagai dalih, namun Anthropic mengaku tidak mendapatkan penjelasan spesifik di balik keputusan tersebut. Sebagai respons, Anthropic langsung menangguhkan akses ke kedua model tersebut bagi seluruh pengguna di dunia.
Dalam surat terbuka yang dikirim ke Gedung Putih, para ahli menyebut larangan ini telah "mengambil model terbaik dari para pembela keamanan siber." Mereka kini tidak bisa memanfaatkan AI tersebut untuk menemukan celah keamanan dan memperkuat perangkat lunak serta produk digital.
"Menarik kemampuan terbaik dari pihak pembela tanpa alasan yang jelas, sementara musuh kita terus maju dengan cepat, adalah tindakan yang berbahaya," tulis surat terbuka tersebut, seperti dikutip dari TechCrunch.
Model Mythos pertama kali diluncurkan dalam tahap pratinjau pada April lalu. Anthropic mengklaim model ini sangat kuat dalam menemukan celah keamanan sehingga aksesnya harus dibatasi ketat. Awalnya, hanya sekitar 50 perusahaan yang mendapat akses, lalu diperluas menjadi 150 organisasi di 15 negara.
Pekan lalu, Anthropic merilis Fable sebagai versi publik Mythos dengan lapisan pengaman (guardrails) ketat. Sayangnya, pengaman ini dinilai terlalu kaku hingga menolak hampir semua perintah yang berkaitan dengan keamanan siber. Menurut Anthropic, larangan ekspor dari Gedung Putih mungkin dipicu oleh laporan yang menyebut adanya metode untuk membobol (jailbreak) Fable.
Metode jailbreak tersebut didemonstrasikan oleh peneliti Amazon dalam sebuah makalah yang belum dipublikasikan. Katie Moussouris, pendiri Luta Security dan salah satu penandatangan surat, mengaku telah meninjau makalah itu. Namun, ia membantah temuan tersebut.
"Makalah itu sebenarnya tidak mendemonstrasikan jailbreak yang nyata," tulis Moussouris dalam blognya. Ia menjelaskan para peneliti hanya meminta Fable untuk memperbaiki kode sumber publik yang sudah diketahui celahnya, setelah model tersebut awalnya menolak meninjau kode untuk masalah keamanan.
Moussouris menegaskan bahwa meminta AI memperbaiki bug, menjelaskan mengapa perbaikan itu penting, dan menulis tes untuk memastikan tambalan berfungsi bukanlah jailbreak. "Itu adalah hal paling berharga yang bisa dilakukan model AI untuk pertahanan keamanan," ujarnya.
Para ahli dalam surat terbuka juga menyatakan bahwa kemampuan yang didemonstrasikan dalam makalah Amazon "dapat direplikasi" di model AI lain, seperti GPT-5.5 milik OpenAI, Claude Opus 4.8 dan Sonnet milik Anthropic sendiri, "bahkan model China seperti Kimi 2.7."
Moussouris menambahkan, "Bug yang digunakan untuk mendemonstrasikan teknik dalam makalah itu dapat ditemukan menggunakan model lain. Metode dalam makalah adalah teknik bypass pengaman. Model lain yang tidak memiliki pengaman Fable seringkali tidak menolak permintaan langsung untuk mencari bug keamanan, jadi mereka tidak memerlukan bypass."
Surat terbuka tersebut juga meminta agar regulasi dibuat melalui proses demokrasi yang transparan dan diterapkan secara adil. Regulasi ini harus didasarkan pada riset ilmiah dari pakar industri dan akademisi, serta digunakan seminimal mungkin untuk memastikan keamanan publik Amerika. Hingga berita ini ditulis, surat tersebut telah ditandatangani oleh 76 ahli keamanan siber, termasuk Alex Stamos (mantan kepala keamanan Facebook), Casey Ellis (pendiri Bugcrowd), dan Rachel Tobac (CEO SocialProof Security).