KALIMANTAN TIMUR — Hanya dua wakil non-Eropa yang tersisa di babak delapan besar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Situasi ini kontras dengan prediksi banyak pengamat yang menyebut faktor adaptasi dan iklim akan menjadi kendala utama bagi negara-negara Eropa saat bermain di luar kandang.
75 Persen Perempat Final Milik UEFA
Persentase 75 persen wakil UEFA di babak perempat final adalah yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Capaian ini sekaligus membungkam narasi bahwa turnamen di luar Eropa selalu menjadi kuburan bagi tim-tim unggulan Benua Biru.
Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol, Portugal, dan Belanda menjadi enam negara yang memastikan tempat di perempat final. Sementara itu, Argentina dan Brasil menjadi satu-satunya wakil dari luar Eropa yang masih bertahan di turnamen.
Prancis dan Inggris Tersisa, Brasil Jadi Satu-satunya Ancaman
Dari segi performa, Prancis dan Inggris datang dengan skuad paling dalam dan konsisten sepanjang fase grup hingga 16 besar. Namun, Brasil tetap dianggap sebagai ancaman terbesar bagi hegemoni Eropa setelah menunjukkan permainan agresif di babak penyisihan.
Portugal yang diperkuat generasi emas anyar juga mencuri perhatian setelah tampil solid tanpa kebobolan di dua laga awal. Sementara Spanyol dan Jerman kembali menunjukkan efektivitas permainan penguasaan bola yang sulit ditembus lawan.
Dominasi Ini Bukan Kebetulan
Data dari turnamen menunjukkan bahwa rata-rata penguasaan bola tim UEFA di babak 16 besar mencapai 58 persen, lebih tinggi dibandingkan wakil CONMEBOL dan CONCACAF. Selain itu, akurasi umpan dan pressing intensitas tinggi menjadi senjata utama yang membuat mereka sulit diimbangi.
Dengan enam tim tersisa, peluang final sesama Eropa di Piala Dunia 2026 sangat terbuka. Namun, Argentina dan Brasil tetap menjadi kuda hitam yang bisa memutus dominasi tersebut jika mampu melewati babak perempat final.