KALIMANTAN TIMUR — Seremoni Go Live proyek ini digelar di Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat. Acara tersebut dihadiri jajaran manajemen Pertamina Patra Niaga dan Elnusa Petrofin, serta para perwira yang akan bertugas dalam operasional harian.
Direktur Operasi dan Marketing Elnusa Petrofin Ferdiansyah menegaskan, proyek ini bukan hanya soal memperluas cakupan operasional perusahaan. “Setiap kepercayaan merupakan amanah yang harus dijaga melalui kinerja terbaik dan komitmen yang konsisten,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6).
Menurut Ferdiansyah, implementasi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat rantai pasok energi nasional melalui layanan logistik energi yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara menjadi prioritas karena statusnya sebagai destinasi super prioritas yang membutuhkan pasokan avtur andal.
Kerja sama antara Elnusa Petrofin dan Pertamina Patra Niaga dinilai strategis karena menyangkut kelancaran distribusi aviation fuel di kawasan yang memiliki tingkat mobilitas udara tinggi. Pasokan bahan bakar pesawat yang stabil menjadi syarat mutlak bagi operasional bandara, terutama di Lombok yang menjadi pintu masuk wisatawan ke NTB.
Dengan proyek ini, kedua perusahaan ingin memastikan tidak ada gangguan pasokan yang bisa menghambat jadwal penerbangan. Keandalan distribusi avtur juga diyakini akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di daerah setempat.
Implementasi Project Aviation Bali-Nusa Tenggara sudah memasuki tahap operasional penuh. Seluruh personel yang terlibat telah ditempatkan di AFT Bandara Lombok dan titik-titik distribusi lain di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
Elnusa Petrofin, yang merupakan anak usaha PT Elnusa Tbk, memang fokus pada jasa logistik energi, termasuk avtur. Pertamina Patra Niaga sebagai subholding commercial & trading Pertamina menjadi mitra utama dalam pendistribusian bahan bakar ke bandara-bandara di Indonesia timur.
Ke depan, kolaborasi ini diharapkan bisa menjadi model bagi pengelolaan rantai pasok avtur di daerah-daerah lain yang memiliki potensi pariwisata tinggi namun tantangan logistik cukup besar.