Bahlil Resmikan Pabrik Gas Mini di Tuban, Target Kurangi Impor LPG

Penulis: Taufik Rahman  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 13:29:31 WIB
Menteri Bahlil meresmikan pabrik gas mini di Tuban untuk mendukung pengurangan impor LPG.

KALIMANTAN TIMUR — Pabrik mini ini dirancang mengolah gas sebanyak 15 MMSCF per hari dari Pertamina Hulu Energi Tuban East Java, dengan kontrak pasokan hingga 2035. Kapasitas produksi maksimalnya setara 55.300 ton LNG per tahun.

Selain LNG, fasilitas ini juga menghasilkan LPG 9.800 ton per tahun, kondensat 19.600 barel per tahun, dan direncanakan memproduksi CO2 cair sebanyak 21.000 ton per tahun. Semua produk ini akan dipasok ke sektor industri, ritel, dan pembangkit listrik di Jawa, Bali, hingga Sulawesi.

Mengapa Pabrik Ini Penting untuk Impor LPG?

Bahlil menyebut proyek ini sebagai bagian dari bauran energi nasional. "Ini adalah karya nyata untuk mengurangi impor LPG kita," ujarnya di lokasi peresmian.

Menurutnya, harga gas di Jawa Timur saat ini masih stabil. Namun, di wilayah Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta, harga mulai terkoreksi naik karena pasokan dari program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menurun seiring turunnya lifting. "Terpaksa kita pakai LNG, sehingga harganya agak naik. Ini yang harus kita cari jalan tengah," kata Bahlil.

Dengan hadirnya pasokan LNG dari Tuban, pemerintah berharap industri di wilayah kekurangan pasokan bisa mendapatkan alternatif energi yang lebih terjangkau dibandingkan bahan bakar impor.

Investasi Besar Butuh Kepastian Kontrak

Bahlil secara khusus meminta Pertamina Hulu Energi Tuban East Java untuk tidak mengubah-ubah kontrak pasokan gas ke pabrik SAG. "Jangan sampai dua tahun terus macet-macet, tidak boleh. Orang sudah investasi besar ini, jadi support terus, pegang kontrak itu," tegasnya.

Fasilitas ini menggunakan infrastruktur penyimpanan dan transportasi darat untuk mendistribusikan LNG ke konsumen. Kapasitas tangki penyimpanan mencapai 1.600 unit, mendukung rantai pasok energi berbasis darat.

Pemerintah menargetkan proyek ini bisa mengurangi pemakaian bahan bakar yang lebih mahal dan beremisi tinggi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Kolaborasi antara BUMN, swasta, dan regulator disebut menjadi kunci keberlanjutan proyek serupa ke depan.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top