PENAJAM PASER UTARA — Deputi Bidang Perencanaan dan Pertanahan Otorita IKN, Mia Amalia, menegaskan bahwa kajian dampak ekonomi pembangunan terus diperbarui secara periodik. Langkah ini diperlukan agar pembangunan tidak hanya berfokus pada Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), tetapi juga menjangkau Provinsi Kalimantan Timur, Pulau Kalimantan, hingga level nasional melalui konsep Superhub Ekonomi Nusantara (SEN).
Hasil analisis menunjukkan ekonomi Kalimantan Timur tumbuh sekitar 3,7 persen dibandingkan sebelum era pembangunan IKN. Angka ini disebut lebih tinggi dari rata-rata provinsi lain di Indonesia.
Yang lebih menarik, Kabupaten Penajam Paser Utara—daerah asal dan terdekat dengan IKN—mengalami peningkatan ekonomi hingga 19,9 persen. Capaian ini jauh di atas kabupaten/kota lain di Kaltim.
Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Ibnu Yahya, menekankan bahwa transformasi ekonomi harus diarahkan agar Kalimantan Timur tidak terus bergantung pada sektor ekstraktif. Menurutnya, penguatan hilirisasi, pengembangan sektor bernilai tambah, dan peningkatan kompleksitas produksi menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, konsep tiga kota (try city) yang meliputi IKN, Balikpapan, dan Samarinda, kini berkembang menjadi Greater Nusantara. Wilayah ini juga mencakup Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.
"Konsep tersebut menunjukkan hasil signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sesuai analisis dampak ekonomi yang disampaikan Otorita IKN," ujar Ibnu Yahya.
Mia Amalia menambahkan, pemahaman berbasis data sangat diperlukan agar pembangunan IKN terus mendukung transformasi ekonomi. "Kajian mengenai dampak ekonomi pembangunan ibu kota baru Indonesia pada wilayah sekitar terus dilakukan," katanya, Senin.
Diharapkan IKN dan SEN IKN dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk bagi Provinsi Kalimantan Timur, agar dapat tumbuh sesuai target yang diharapkan.