Harga Timah Meroket 56%, PT Timah Raup Pendapatan Rp 10,42 Triliun di Semester I 2026

Penulis: Prayoga Santana  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 11:46:16 WIB
Produksi bijih timah PT Timah mencapai 12.232 ton pada Semester I 2026, naik 75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

KALIMANTAN TIMUR — Kinerja finansial yang impresif ini berbanding lurus dengan aktivitas operasional di lapangan. Sepanjang Januari–Juni 2026, PT Timah memproduksi 12.232 ton bijih timah, tumbuh 75% dari 6.997 ton pada semester yang sama tahun sebelumnya. Produksi logam timah juga naik 58% menjadi 10.865 metrik ton, sementara volume penjualan melonjak 85% menjadi 10.984 metrik ton.

Direksi PT Timah menyebut transformasi operasional menjadi kunci utama di balik pencapaian ini. "Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut," ujar Restu, dalam keterangan resminya, Jumat (31/7).

Ekspor Mendominasi, China Jadi Pembeli Terbesar

Dari sisi pasar, penjualan ekspor masih mendominasi dengan kontribusi 97% dari total penjualan. China menjadi tujuan utama dengan porsi 36%, disusul India 12%, Korea Selatan 11%, serta Singapura, Belanda, dan Italia yang masing-masing berkisar 5–6%. Komposisi ini menunjukkan daya saing produk timah Indonesia yang tetap kuat di pasar internasional.

Harga jual rata-rata logam timah perseroan pada semester ini mencapai USD49.794 per metrik ton, meningkat 52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penguatan ini terjadi meskipun persediaan timah di gudang LME naik 58,36% menjadi 8.575 ton pada akhir Juni 2026, sinyal bahwa permintaan masih tetap solid.

Permintaan AI dan Kendaraan Listrik Menopang Prospek

Konsumsi timah global pada Semester I 2026 tercatat 179.256 ton, lebih tinggi dibandingkan produksi yang hanya 173.536 ton. Kondisi defisit pasokan ini menjadi penopang harga ke depan. Permintaan diperkirakan terus tumbuh seiring investasi di sektor kecerdasan buatan (AI), pusat data, kendaraan listrik, dan infrastruktur kelistrikan—di mana timah menjadi bahan baku utama solder untuk industri semikonduktor dan elektronik.

Untuk menjaga keberlanjutan, PT Timah menggencarkan eksplorasi di darat dan laut. Hingga Juni 2026, perseroan mencatat sumber daya timah sebesar 798 ribu ton dan cadangan 312 ribu ton. "Kami akan terus memperkuat fundamental usaha melalui eksplorasi berkelanjutan dan penguatan tata kelola pertambangan," tambah Restu.

Rasio Profitabilitas Membaik Signifikan

Perbaikan kinerja juga tercermin dari rasio profitabilitas. Margin operasi naik dari 9,01% menjadi 33,24%, sementara margin bersih melonjak dari 7,11% menjadi 26,05%. Return on Equity (ROE) mencapai 25,74%, jauh lebih tinggi dibandingkan 3,57% pada semester pertama 2025.

Total aset perseroan kini mencapai Rp 16,45 triliun, tumbuh 21% dari posisi akhir 2025. Ekuitas meningkat 25% menjadi Rp 10,55 triliun, didukung oleh perolehan laba bersih yang signifikan. Dengan fundamental yang solid dan prospek industri yang cerah, PT Timah optimistis mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top