SANGATTA — Kecelakaan maut di ruas jalan poros penghubung dua kota itu bermula saat korban melaju dari arah Bontang menuju Sangatta. Kondisi kabut diduga membuat pandangan pengendara terbatas hingga ia tak menyadari adanya truk yang berhenti di badan jalan.
Kendaraan berat yang dikemudikan MI itu diketahui mengalami kerusakan dan berhenti di tengah lajur. Pengemudi truk sempat memasang rambu peringatan serta menyalakan lampu sein kanan sebagai tanda kendaraan tengah berhenti. Namun, upaya tersebut tidak cukup untuk menghindarkan DA dari kecelakaan fatal.
Kanit Laka Satlantas Polres Kutim menjelaskan, korban tidak sempat mengerem dan langsung terperosok ke bagian buntut truk. "Pemotor out of control terus menambrak truk yang sedang mogok," ucap Kasat Lantas AKP Rezky Nur Harismeihendra.
Benturan keras itu menyebabkan pengendara motor mengalami cedera parah di kepala. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa tingginya risiko berkendara di jalan poros pada dini hari, terutama saat kabut mulai turun.
Petugas Satlantas Polres Kutim saat ini masih melakukan olah tempat kejadian perkara dan mendata sejumlah saksi di lokasi. Proses penyelidikan dan penyidikan tengah berjalan untuk memastikan kronologi lengkap insiden tersebut.
AKP Rezky mengimbau seluruh pengguna jalan agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melintas di ruas jalan minim penerangan atau ketika berpapasan dengan kendaraan yang berhenti di badan jalan. "Kami mengimbau masyarakat agar selalu berkonsentrasi saat berkendara, menjaga jarak aman, serta mengurangi kecepatan," pungkasnya.
Jalan Poros Bontang-Sangatta merupakan jalur vital yang menghubungkan kawasan industri di Bontang dengan ibu kota Kabupaten Kutai Timur. Ruas ini kerap dilintasi kendaraan berat pengangkut hasil industri dan logistik, sehingga pengendara sepeda motor dituntut ekstra hati-hati, terutama saat visibilitas terbatas.