KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan pantauan pasar valuta asing pada pukul 13.30 WIB, mata uang Garuda terkoreksi cukup dalam setelah sempat dibuka stagnan di posisi Rp17.953,6 per dolar AS. Tekanan jual terhadap rupiah mulai terasa sejak pertengahan sesi pertama, seiring dengan menguatnya indeks dolar di pasar global.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan pelemahan ini masih akan berlanjut namun dengan potensi yang terbatas. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang hari ini.
Penguatan dolar AS kali ini dipicu oleh rilis data manufaktur Amerika Serikat yang tercatat lebih baik dari ekspektasi pasar. Angka tersebut memperkuat persepsi investor bahwa ekonomi AS masih resilien di tengah ketidakpastian global, sehingga permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven ikut meningkat.
Di sisi lain, pasar juga masih mencermati sinyal kebijakan moneter The Fed. Arah suku bunga acuan bank sentral AS dalam beberapa pekan ke depan menjadi faktor penentu pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Tekanan dolar AS hari ini tidak hanya dirasakan rupiah. Sejumlah mata uang kawasan Asia turut terkoreksi, antara lain:
Namun, won Korea Selatan justru berhasil menguat 0,50% terhadap dolar AS pada perdagangan sehari sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan tekanan dolar tidak merata di seluruh kawasan dan masih dipengaruhi faktor domestik masing-masing negara.
Sebelum pelemahan hari ini, rupiah sempat menguat 0,14% ke level Rp17.997 per dolar AS pada penutupan Senin (3/8). Penguatan tersebut didorong sentimen positif dari rencana pembicaraan damai antara AS dan Iran yang meredakan ketegangan geopolitik.
Inflasi domestik yang relatif terkendali dalam beberapa pekan terakhir turut memperkuat ekspektasi terhadap fundamental ekonomi yang sehat. Meski demikian, munculnya kembali defisit neraca perdagangan Indonesia menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah lebih lanjut.
Bagi pelaku pasar, fluktuasi nilai tukar yang masih tinggi menuntut strategi lindung nilai yang lebih aktif. Pergerakan rupiah hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada data ekonomi AS berikutnya serta keputusan kebijakan moneter The Fed dan Bank Indonesia.