KALIMANTAN TIMUR — Wakil Direktur Utama PHE, Virano Nasution, menegaskan bahwa prioritas pemenuhan energi nasional bertumpu pada ketersediaan sumur pemboran. Di hadapan ratusan delegasi industri energi mancanegara, ia menyebut tiga fokus utama: menahan laju penurunan produksi di lapangan mature, membuka potensi baru di Indonesia Timur, dan mengoptimalkan cadangan gas bumi yang melimpah.
"Energi di Indonesia bukan sekadar teori abstrak, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan hidup lebih dari 280 juta orang," ujar Virano saat membuka konferensi yang mengusung tema "Transforming drilling and wells for an efficient and intelligent energy future".
Untuk merealisasikan target tersebut, PHE menggerakkan ratusan sumur pengembangan di wilayah darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore). Kegiatan ini mencakup pekerjaan workover sumur serta komitmen eksplorasi yang tersebar dari Blok Rokan, Sumatra Selatan, hingga Kalimantan dan kawasan timur Indonesia.
Virano menjelaskan, karakter sumur migas masa depan di Asia Pasifik semakin kompleks. Sumur berada di lokasi terpencil dengan suhu dan tekanan lebih tinggi. Kondisi ini menuntut teknologi terbaik, armada rig andal, dukungan riset akademis, serta regulasi yang ramah investasi.
"Industri hulu migas Indonesia membutuhkan talenta, transfer teknologi dalam bidang eksplorasi, pemboran pengembangan, Enhanced Oil Recovery (EOR), serta Carbon Capture and Storage (CCS)," paparnya.
Virano juga menyampaikan dorongan khusus kepada para insinyur dan profesional muda di sektor energi. Ia mematahkan anggapan bahwa profesi pengeboran adalah industri masa lalu. Menurutnya, pembangunan sumur panas bumi untuk transisi energi hingga penyediaan lokasi penyimpanan karbon tidak akan terwujud tanpa kontribusi para insinyur pemboran, ahli geologi, dan geofisikawan berkaliber tinggi.
"Pekerjaan ini merupakan bagian dari tugas monumental pembangunan bangsa," tegasnya.
Konferensi yang dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Deputi Eksploitasi SKK Migas Surya Widyantoro, serta jajaran pimpinan Pertamina ini juga menjadi ajang penegasan komitmen PHE pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi hulu migas yang berkelanjutan, memperkuat budaya kepatuhan, serta mencegah fraud demi mewujudkan lingkungan kerja yang profesional dan transparan.
Gelaran SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition 2026 di Bali menjadi sinyal bagi investor global bahwa industri hulu migas Indonesia terbuka dan siap berkolaborasi. Dengan agenda pengeboran yang masif, PHE berupaya memastikan ketahanan energi nasional tidak sekadar menjadi wacana, melainkan aksi nyata di lapangan.