Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, melonjak hingga menempati peringkat kedua penyakit terbanyak di fasilitas kesehatan, menggusur posisinya sebelumnya yang berada di urutan 10. Dinas Kesehatan Berau mencatat 3.587 kasus ISPA pada pekan ke-29 hingga ke-33 atau periode Juli–Agustus 2026, seiring kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah.
BERAU — Lonjakan kasus ISPA ini menjadi perhatian serius Pemkab Berau karena paparan asap karhutla dinilai berdampak langsung pada kesehatan warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil. Wakil Bupati Berau Gamalis meninjau langsung Puskesmas Kampung Bugis dan Puskesmas Tanjung Redeb pada Kamis untuk memastikan kesiapsiagaan layanan kesehatan di tengah memburuknya kualitas udara.
Dari pemantauan di fasilitas kesehatan, pergeseran posisi ISPA dari peringkat 10 ke peringkat 2 terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan terus berlanjut hingga awal September. Hipertensi masih menempati urutan pertama penyakit terbanyak yang ditangani puskesmas di wilayah tersebut.
Gamalis mengungkapkan bahwa lonjakan kasus saat ini banyak ditemukan pada anak-anak dan ibu hamil. Kondisi ini memaksa pihaknya mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.
Warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker untuk meminimalkan risiko terpapar asap. Imbauan ini disampaikan menyusul pemantauan yang menunjukkan peningkatan signifikan kunjungan pasien ISPA ke puskesmas dalam beberapa pekan terakhir.
"Berdasarkan pemantauan di fasilitas kesehatan, kasus ISPA mengalami peningkatan. Dari sebelumnya berada di posisi 10, kini menempati peringkat kedua setelah hipertensi," kata Gamalis dalam peninjauannya, Kamis.
Selain aktivitas di luar rumah, Gamalis menyoroti kualitas udara di dalam ruangan yang kerap luput dari perhatian publik. Partikulat halus PM2.5 disebutnya bisa masuk melalui hidung dan langsung menembus paru-paru, sehingga berisiko memicu gangguan pernapasan meski seseorang berada di dalam rumah.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini perlu diantisipasi agar dampak karhutla terhadap kesehatan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius di tengah masyarakat.
"Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama dan segera diantisipasi agar dampak karhutla terhadap kesehatan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius," ujarnya.
Pemkab Berau disebut terus memperkuat kesiapsiagaan sektor kesehatan dalam menghadapi situasi kabut asap. Peninjauan langsung ke puskesmas menjadi bagian dari upaya memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal, termasuk ketersediaan obat-obatan dan tenaga medis untuk menangani lonjakan pasien ISPA.
Masyarakat diimbau mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruang dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala gangguan pernapasan. Perhatian khusus juga diberikan kepada keluarga dengan balita dan ibu hamil sebagai kelompok yang paling rentan terdampak kabut asap.