BALIKPAPAN — Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan BMKG Balikpapan, Ilham Rosihan Fachturoni, menyatakan dominasi cuaca kering masih menyelimuti mayoritas wilayah Kaltim hingga akhir September dan berlanjut ke Oktober. Angin segar yang membawa hujan baru diperkirakan masuk pada November hingga Desember.
"Prediksi BMKG, kemarau bisa bertahan sampai Oktober. Angin segar baru kita harapkan pada November hingga Desember, saat Monsun Baratan atau Monsun Asia mulai masuk ke Kaltim untuk menambah curah hujan," ujar Ilham di Balikpapan.
El Nino Kuat Berulang Setiap Dekade
Fenomena El Nino yang melanda saat ini tercatat sebagai salah satu yang terkuat dalam kurun 100 tahun terakhir secara historis. Ilham menyebut pola tersebut memiliki siklus sepuluh tahunan.
"Jika melihat historisnya, fenomena ini memiliki siklus 10 tahunan. Terakhir kali El Nino kuat terjadi pada tahun 2015 lalu, dan kemungkinan memang berulang setiap dekade," ujarnya.
Dampaknya, awal musim hujan di Kaltim berpotensi mengalami penundaan. Warga di kawasan pesisir dan tengah perlu bersiap menghadapi periode kering yang lebih panjang dari biasanya.
Berau dan Mahakam Ulu Relatif Lebih Basah
Kondisi cuaca di Kaltim tidak sepenuhnya seragam. BMKG mencatat wilayah bagian utara dan barat, seperti Kabupaten Berau dan Kabupaten Mahakam Ulu, secara relatif akan sedikit lebih basah dibandingkan wilayah pesisir dan bagian tengah.
"Dinamika atmosfer di wilayah utara dan barat masih mendukung terjadinya pembentukan awan hujan. Untuk sepekan ke depan, peluang hujan di kawasan barat dan utara masih ada, sementara di kawasan tengah dan pesisir potensinya relatif kecil. Kalaupun ada, sifatnya hanya hujan ringan dan lokal," jelas Ilham.
Ancaman Karhutla Meningkat di Puncak Kemarau
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana kekeringan. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga masih tinggi selama masa puncak kemarau ini.
Wilayah pesisir dan tengah Kaltim yang curah hujannya minim menjadi titik paling rawan. Pemerintah kabupaten dan kota di kawasan tersebut diminta menyiapkan langkah antisipasi, mulai dari pemantauan titik panas hingga penyediaan air bersih bagi warga terdampak kekeringan.