SAMARINDA – Wajah perdesaan di Kalimantan Timur kini tengah mengalami "upgrade" besar-besaran. Tidak lagi identik dengan birokrasi manual yang lambat, Pemerintah Provinsi Kaltim melalui konsep Smart Village mendorong desa-desa untuk beralih ke layanan yang lebih cerdas, cepat, dan sepenuhnya terkoneksi secara digital.
Arah kebijakan strategis ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Layanan Publik dan Digital Marketing yang dipimpin oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kaltim, Puguh Harjanto, Selasa (10/2/2026).
Puguh menegaskan bahwa Smart Village bukan sekadar tren teknologi, melainkan fondasi agar desa tidak tertinggal oleh zaman. Saat ini, infrastruktur pendukung berupa internet gratis telah menjangkau 841 desa di Kalimantan Timur.
Langkah selanjutnya adalah integrasi layanan administrasi ke dalam Super App Kaltim yang diberi nama SAKTI Gemas (Satu Akses Kalimantan Timur Menuju Generasi Emas).
“Layanan digital ini akan membuat urusan administrasi desa menjadi lebih praktis. Warga tidak perlu lagi datang berulang kali ke kantor desa; semua harus bisa diakses secara transparan dan cepat,” tegas Puguh Harjanto.
Penerapan Desa Cerdas di Kaltim merujuk pada indikator keberlanjutan global yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal:
| Pilar Smart Village | Fokus Pengembangan |
|---|---|
| Smart Government | Pelayanan publik digital dan transparansi anggaran desa. |
| Smart Economy | Digital marketing produk UMKM dan hasil pertanian desa. |
| Smart People | Peningkatan literasi digital masyarakat desa. |
| Smart Living | Akses layanan kesehatan dan pendidikan berbasis teknologi. |
| Smart Environment | Pengelolaan sumber daya alam desa yang berkelanjutan. |
| Smart Mobility | Konektivitas transportasi dan informasi antarwilayah. |
Pengembangan desa digital ini melibatkan kolaborasi erat antar-instansi:
Diskominfo Kaltim: Fokus pada keterbukaan informasi publik dan penguatan sistem informasi desa agar lebih akuntabel.
DPPKUKM Kaltim: Menyoroti sisi Digital Marketing. Produk unggulan desa kini didorong untuk memiliki kemasan (branding) yang kekinian agar mampu bersaing di marketplace nasional.
Meski program Desa Digital Kaltim telah sering menorehkan prestasi di kancah nasional, Puguh mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut tidak boleh hanya terkonsentrasi di desa-desa tertentu.
“Harapan kami, desa yang sudah sukses bisa menjadi mentor bagi desa lainnya. Kemajuan digital harus dirasakan merata dari hulu ke hilir, sehingga setiap desa di Kaltim bisa lebih mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.