NUSANTARA — Kawasan Tahura Bukit Soeharto yang dulunya menyisakan lubang tambang dan lahan tandus kini mulai berubah. Otorita IKN bersama Kementerian Kehutanan menjalin kerja sama strategis untuk merehabilitasi kawasan tersebut menjadi hutan produktif dan habitat satwa liar.
“Giat ini memiliki banyak manfaat. Selain memulihkan alam, juga menjadi upaya menyejahterakan warga serta mendukung program Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah),” ujar Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono.
Penanaman Bertahap: dari Akasia hingga Ulin
Proses rehabilitasi dimulai dari pemetaan kawasan, pengukuran kedalaman lubang bekas tambang, hingga penimbunan dan perataan lahan. Saluran drainase diperbaiki untuk mencegah genangan, sementara kesuburan tanah yang rusak dipulihkan dengan melibatkan para ahli.
Penanaman dilakukan bertahap. Jenis pohon cepat tumbuh seperti akasia dan sengon ditanam lebih dulu untuk menahan erosi dan menutup lahan terbuka. Setelah itu, spesies endemik Kalimantan seperti meranti, ulin, dan kapur akan dikembalikan agar ekosistem pulih mendekati kondisi alaminya. Bibit berkualitas disuplai dari Balai Pembenihan Hutan.
Pengelolaan air dan pengendalian erosi juga dilakukan melalui pembangunan cekdam, kolam retensi, serta pencegahan rembesan air asam tambang ke sungai-sungai di sekitar kawasan. Pemantauan pertumbuhan tanaman dilakukan setiap tiga hingga enam bulan.
Satwa Liar Mulai Kembali ke IKN
Hasil pemulihan mulai terlihat di kawasan Wanagama seluas 621 hektare yang berada di Zona Rimba Kota, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Beruang madu, lutung merah, rusa sambar, dan berbagai jenis burung hutan kini semakin sering terlihat di kawasan tersebut.
Kehadiran satwa-satwa itu menjadi indikator penting bahwa ekosistem mulai pulih dan kembali menjalankan fungsinya secara alami. Ruang hidup bagi keanekaragaman hayati pun semakin terbuka, sejalan dengan konsep smart forest city yang dikembangkan di IKN.
Rektor UGM Ova Emilia menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, menjaga lingkungan merupakan investasi jangka panjang sehingga pihaknya siap mendukung IKN menjadi contoh pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.
Warga Dilatih Jaga Hutan, 300 Pejuang Lingkungan Kumpulkan Sampah
Masyarakat setempat dilibatkan secara langsung sebagai pelaksana dan pemelihara kawasan rehabilitasi. Mereka juga didorong menanam komoditas bernilai ekonomi seperti karet, aren, dan berbagai tanaman buah.
Gerakan menjaga lingkungan juga hadir di tingkat masyarakat melalui kerja bakti yang melibatkan sekitar 300 “pejuang lingkungan”. Kegiatan di kawasan sekitar Masjid Negara IKN itu berhasil mengumpulkan 330 kilogram sampah yang kemudian dipilah menjadi sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya.
“Ini bukan sekadar mengumpulkan sampah, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa lingkungan bersih dimulai dari kebiasaan sederhana,” ujar Ratna Juwita, salah seorang peserta kerja bakti.
Pengawasan Ketat Cegah Tambang Liar Kembali
Otorita IKN menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak guna memulihkan kawasan bekas tambang di Tahura Bukit Soeharto. Pengawasan ketat terus dilakukan untuk memastikan aktivitas penambangan liar tidak kembali terjadi.
Puncak rangkaian aksi peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 berlangsung di Pantai Tanah Merah, Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Samboja, pada Sabtu (13/6). Kegiatan ini mengusung semangat “Saatnya Beraksi untuk Iklim” sebagai pengingat bahwa pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada gedung dan infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan ekosistem.