Curaçao Cetak Gol Bersejarah, Jerman Balas dengan 7 Gol Tanpa Ampun

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Senin, 15 Juni 2026 | 07:18:01 WIB
Gol pertama Curaçao cetak sejarah melawan Jerman di babak pertama.

KALIMANTAN TIMUR — Gol Comenencia di babak pertama sontak membuat bangku cadangan Curaçao meledak. Sebuah momen yang tak pernah terbayangkan oleh pulau berpenduduk 158.000 jiwa itu—menyamakan skor melawan raksasa sepak bola dunia, Jerman. Namun, realitas pahit harus mereka terima setelah jeda minum yang kontroversial.

Jeda Minum yang Mengubah Segalanya

Setelah gol Comenencia, Curaçao tengah berada di puncak momentum. Mereka terus menekan pertahanan Jerman. Tapi, wasit menghentikan pertandingan untuk jeda minum tiga menit—sebuah prosedur standar di suhu stadion yang sudah didinginkan hingga 22 derajat Celsius.

Alih-alih sepak bola, penonton di stadion Texas disuguhi pertunjukan mariachi. Nagelsmann mengakui jeda itu sangat menguntungkan timnya. “Kami butuh sedikit waktu, dan jeda minum itu ternyata bagus,” ujar Nagelsmann.

Havertz dan Brown Jadi Bintang

Setelah jeda, Jerman kembali dengan wajah yang sama sekali berbeda. Nico Schlotterbeck menyundul tendangan pojok Nathaniel Brown untuk membawa Jerman unggul. Tak lama, Felix Nmecha memenangkan penalti yang dikonversi dingin oleh Kai Havertz. Babak pertama pun ditutup dengan skor 3-1.

Di babak kedua, Jerman menambah empat gol tambahan. Jamal Musiala mencetak gol setelah menerima umpan terobosan Joshua Kimmich. Bek kiri Nathaniel Brown, yang kabarnya akan segera pindah ke Bayern Munich senilai £47 juta, ikut menyumbang gol lewat voli terukur. Havertz menutup pesta dengan gol keduanya di menit akhir.

Air Mata Advocaat dan Kehormatan Curaçao

Di tengah kehancuran, ada satu sosok yang mencuri perhatian: Dick Advocaat. Pelatih berusia 78 tahun itu menitikkan air mata sebelum kick-off. “Emosi itu muncul dan saya coba hindari, tapi itu terjadi. Ini momen luar biasa bagi negara kami,” kata Advocaat.

Curaçao memang kalah telak, tapi mereka tidak pernah bertahan mati-matian. Mereka terus mencoba menyerang meskipun celah demi celah terbuka lebar. “Bertahan saja pasti akan berujung kekalahan. Jadi kami coba bermain ofensif, meski tidak berhasil di semua lini,” tambah Advocaat.

Hasil ini membuat Jerman lolos mulus ke fase gugur. Namun, Nagelsmann sadar bahwa ujian sesungguhnya baru akan dimulai dalam beberapa pekan ke depan.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top