FIFA Uji Coba Blockchain Avalanche untuk Atasi Calo Tiket Piala Dunia, Volume Transaksi Tembus Rp400 Miliar

Penulis: Okta Nugraha  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 05:20:31 WIB
FIFA menggandeng Avalanche untuk mencatat kepemilikan tiket Piala Dunia di blockchain.

FIFA tidak main-main dalam memberantas calo dan bot pemburu tiket. Melalui platform FIFA Collect, federasi sepak bola dunia itu menggandeng jaringan Avalanche dan penyedia infrastruktur Modex untuk menciptakan sistem tiket yang seluruh proses kepemilikannya tercatat di blockchain.

Alih-alih menjual tiket langsung, FIFA menerbitkan dua instrumen digital: Right-to-Buy (RTB) dan Right-to-Ticket (RTT). RTB adalah hak prioritas untuk membeli tiket resmi sebelum dijual ke publik. Setelah ditebus, RTB berubah menjadi RTT yang bisa digunakan untuk mendapatkan tiket pertandingan sesungguhnya melalui sistem FIFA yang sudah ada.

Kedua instrumen ini bisa diperjualbelikan di pasar sekunder — dan di sinilah letak kendali FIFA. Alih-alih calo dan platform pihak ketiga seperti StubHub atau SeatGeek yang meraup untung, FIFA ingin aktivitas jual-beli ulang tiket terjadi di ekosistemnya sendiri.

Volume Transaksi dan Jumlah Tiket yang Beredar

Menurut data yang dibagikan Ava Labs, pengembang utama Avalanche, lebih dari 100.000 RTB telah diterbitkan hingga saat ini. Sekitar 50.000 tiket Piala Dunia Antarklub didistribusikan dalam paket yang sudah menyertakan RTB.

Volume perdagangan RTT di pasar sekunder sudah melampaui 15 juta dolar AS. Jika digabung dengan volume RTB, totalnya mencapai 25 juta dolar AS — angka yang tergolong besar untuk sebuah proyek blockchain yang terkait langsung dengan produk nyata, bukan sekadar spekulasi kripto.

Mengapa FIFA Butuh Blockchain untuk Tiket?

Dominic Carbonaro, pimpinan sektor enterprise konsumen di Ava Labs, menyebut masalah ini sebagai "Taylor Swift

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: coindesk.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top