Harga CPO dan Program B50 Dorong Kinerja Emiten Sawit Nusantara Sawit Sejahtera (NSSS) di Kaltim

Penulis: Prayoga Santana  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 08:30:31 WIB
Saham emiten sawit NSSS ditutup menguat 4,38 persen di tengah tren positif harga CPO global.

JAKARTA — Saham NSSS sempat menjadi salah satu saham yang paling banyak diakumulasi investor pada pekan lalu, dengan nilai transaksi mencapai Rp 9,67 miliar dalam sehari. Momentum itu berlanjut hingga Senin (27/7) kemarin, ketika harga saham NSSS menguat 4,38% ke level Rp 835 per lembar.

Penguatan ini melanjutkan tren positif yang sudah terbentuk sejak sepekan terakhir, di mana saham NSSS naik 10,60%. Dalam sebulan terakhir, apresiasinya bahkan mencapai 50,45%. Meski demikian, secara year to date (YtD) saham NSSS masih terkoreksi 9,73%.

Kinerja Keuangan Semester I 2026: Pendapatan dan Laba Bersih Kompak Naik

Berdasarkan laporan keuangan perseroan per Juni 2026, pendapatan NSSS melesat dari Rp 946,61 miliar pada semester I-2025 menjadi Rp 1,05 triliun. Laba bersih juga tumbuh signifikan dari Rp 314,26 miliar menjadi Rp 334,56 miliar pada periode yang sama.

Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai capaian ini mencerminkan perbaikan profitabilitas di tengah kuatnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Dua Katalis yang Bakal Menopang Kinerja Paruh Kedua 2026

Wafi memproyeksikan kinerja NSSS di semester II-2026 masih akan menggembirakan. Menurutnya, ada dua faktor utama yang bisa mendorong harga CPO global sekaligus menopang emiten sawit secara keseluruhan.

Pertama, implementasi program biodiesel B50 yang digagas pemerintah. Kedua, kenaikan biaya pupuk dan logistik akibat premi risiko geopolitik. Kedua faktor ini secara langsung mempengaruhi harga jual CPO di pasar internasional.

“Hasil yang cukup konstruktif di paruh pertama 2026 menjadi sinyal positif bagi prospek emiten sawit ke depan,” ujar Wafi dalam risetnya.

Dampak bagi Perkebunan Sawit di Kalimantan Timur

Sebagai salah satu provinsi penghasil sawit terbesar di Indonesia, Kalimantan Timur menjadi wilayah operasi utama NSSS. Kenaikan harga CPO dan prospek program B50 diperkirakan akan berdampak langsung pada petani plasma dan mitra usaha di sekitar perkebunan.

Hingga berita ini diturunkan, NSSS masih menjadi salah satu emiten sawit yang paling aktif diperdagangkan di bursa. Investor lokal dan asing tercatat terus mengakumulasi saham perseroan sejak awal pekan ini.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: insight.kontan.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top