Kenaikan harga komponen, terutama modul RAM dan GPU, membuat hobi ini semakin mahal. Dalam laporan terbaru Tom's Guide, seorang reviewer perangkat keras menguraikan tiga pendekatan utama yang masih masuk akal secara finansial di tengah pasar yang tak menentu.
Handheld Gaming: Gerbang Masuk Paling Rendah Hambatan
Konsol genggam seperti Steam Deck OLED dan Asus ROG Ally kini menjadi salah satu opsi paling praktis. Harganya memang naik—Steam Deck OLED 512GB kini mulai dari $789 (sekitar Rp 12,6 juta)—namun tetap lebih terjangkau ketimbang merakit PC desktop dari nol.
Perangkat ini menjalankan game dari pustaka Steam atau Windows secara langsung. Keunggulan utamanya ada pada portabilitas dan kemudahan setup, terutama yang berbasis SteamOS. Pengguna juga bisa menyambungkannya ke monitor atau TV melalui docking untuk performa yang lebih stabil.
Tapi ada kompromi: game AAA modern biasanya berjalan di resolusi 720p hingga 1080p dengan pengaturan rendah-sedang, dan baterai hanya bertahan satu hingga dua jam untuk gim berat. Meski begitu, bagi yang belum siap berinvestasi pada meja dan monitor, handheld adalah titik awal yang solid.
PC Rakitan: Kontrol Penuh, Tapi Butuh Riset Ekstra
Membangun PC sendiri tetap menjadi jalur terbaik untuk fleksibilitas jangka panjang. Di tengah harga komponen yang tinggi, opsi ini tidak lagi otomatis lebih murah ketimbang beli jadi, namun keunggulannya ada pada kendali penuh atas setiap bagian.
Pengguna bisa memilih GPU, pendingin, dan casing sesuai kebutuhan, serta melakukan upgrade komponen secara bertahap. Proses merakit juga memberikan pemahaman teknis yang berguna untuk troubleshooting di masa depan.
Beberapa strategi penghematan masih berlaku, seperti memburu komponen generasi sebelumnya (AM4 dan DDR4) atau memanfaatkan paket bundel dari toko seperti Micro Center. Namun, harga RAM DDR5 32GB yang kini mencapai $350–$470 (sekitar Rp 5,6–7,5 juta) menjadi tantangan tersendiri.
PC Jadi: Solusi Cepat dengan Harga Kompetitif
Bagi yang tidak punya waktu atau keinginan merakit, PC pre-built justru menawarkan nilai lebih di pasar saat ini. Produsen membeli komponen dalam jumlah besar, sehingga mereka bisa menjual sistem jadi dengan harga yang sebanding atau bahkan lebih murah ketimbang merakit sendiri.
Menurut analis Avi Greengart dari Techsponential, dalam lingkungan seperti ini "membeli pre-built biasanya lebih murah daripada merakit sendiri." Sistem dengan GPU RTX 5060 dan RAM 32GB kini bisa ditemukan di kisaran $1.000–$1.200 (sekitar Rp 16–19,2 juta).
Kekurangannya, konsumen tidak bisa memilih setiap komponen secara detail. Kipas pendingin atau catu daya yang digunakan mungkin bukan pilihan terbaik. Namun, dengan memprioritaskan performa GPU dan kapasitas RAM, serta memilih merek seperti Lenovo, iBuyPower, atau CyberPower, pengguna bisa mendapatkan sistem yang andal tanpa kerumitan perakitan.
Pilih Berdasarkan Gaya Hidup, Bukan Sekadar Harga
Keputusan akhir bergantung pada prioritas masing-masing. Handheld cocok untuk mereka yang ruangnya terbatas atau belum yakin ingin serius. Pre-built adalah pilihan paling praktis bagi yang ingin langsung bermain. Sedangkan PC rakitan tetap menjadi opsi terbaik bagi yang mengutamakan kontrol dan potensi upgrade di masa depan.
Yang pasti, harga yang harus dibayar di 2026 lebih tinggi dibanding setahun lalu. Namun dengan memahami kompromi dari setiap jalur, pemula tetap bisa memulai perjalanan PC gaming tanpa merasa tertinggal atau terjebak dalam pengeluaran yang tidak perlu.