KALIMANTAN TIMUR — Chevrolet Bolt pensiun pada 2023, namun General Motors (GM) menghidupkannya kembali untuk satu tahun produksi saja: 2027. Bukan model baru total, melainkan renovasi besar dari Bolt EUV yang sempat hilang. Jurnalis The Drive, Adam Ismail, membandingkan unit 2027 dengan Bolt EUV 2023 milik temannya, Forrest, secara bergantian. Hasilnya? Satu lompatan besar di sektor pengisian daya, tetapi diimbangi banyak kompromi yang membuat model lawas justru lebih menarik.
Perbedaan paling fundamental ada di bawah lantai kabin. Baterai 65 kWh yang sama kini menggunakan kimia lithium-iron-phosphate (LFP) dari CATL, menggantikan nikel-kobalt. Keunggulannya: siklus pengisian lebih banyak dan umur pakai lebih panjang. Kekurangannya: performa di cuaca dingin secara teoretis lebih buruk, meski heat pump baru mencoba mengompensasi.
Yang berubah drastis adalah kemampuan pengisian. Port NACS kini terpasang standar, dan dukungan DC fast charging naik tiga kali lipat menjadi 150 kW. Angka ini mengubah Bolt dari mobil kota yang hanya bisa diisi daya lambat menjadi kendaraan layak untuk perjalanan antar kota. Sayangnya, jarak tempuh hanya naik tipis, dari 247 menjadi 262 mil (sekitar 421 km) menurut estimasi EPA.
Tenaga motor naik 10 hp menjadi 210 hp, tetapi torsi justru turun drastis dari 266 lb-ft menjadi 169 lb-ft. Di atas kertas, ini aneh. Setelah diuji, rasio final drive yang diubah membuat akselerasi dari posisi berhenti justru terasa lebih responsif dibanding model lama.
Pengalaman berkendara menjadi titik terlemah model baru. Mode pengereman regeneratif "normal" di 2027 terasa seperti menginjak rem keras setiap kali pedal gas dilepas. Tidak ada opsi yang lebih halus, hanya setting "high" yang semakin tidak masuk akal. Padahal, model 2023 memiliki kalibrasi satu pedal yang lembut dan nyaman, plus paddle Regen-on-Demand di belakang kemudi yang kini dihilangkan.
Kabin model baru juga terasa seperti kemunduran. Banyak ruang penyimpanan baru yang bentuknya aneh dan permukaannya licin, membuat barang mudah tergelincir. Material plastik keras mendominasi, dan jurnalis The Drive mengibaratkan duduk di dalam "van utilitas mungil". Tombol power fisik dan shifter konvensional di model lama diganti dengan stalk di belakang kemudi, sebuah keputusan yang tidak disukai penguji.
Yang paling disayangkan adalah hilangnya Apple CarPlay. GM memaksa pengguna tinggal di ekosistem mereka sendiri, padahal aplikasi seperti podcast Overcast tidak tersedia di sistem bawaan mobil. Ini memaksa pengemudi memegang ponsel saat berkendara, sebuah langkah yang tidak masuk akal di era keselamatan berkendara.
Harga dasar Bolt 2027 naik tipis menjadi USD 28.995 (sekitar Rp 464 juta dengan kurs Rp 16.000), dengan paket Comfort seharga USD 995 untuk jok panas dan setir panas. Di pasar bekas, Bolt EUV 2023 dengan 23.000 mil bisa didapatkan dengan harga USD 24.700. Dengan selisih hampir USD 5.000, pilihan untuk membeli model lama dengan fitur lebih lengkap dan kabin lebih nyaman terasa jauh lebih logis.
Chevrolet Bolt 2027 adalah mobil listrik murah yang cerdas dan ringkas, tetapi eksekusinya terasa seperti sesuatu yang dipaksakan. GM seakan enggan menghidupkannya kembali, dan itu terasa dari setiap sudut kabin hingga kalibrasi pedal yang tidak selesai disempurnakan. Kecuali kebutuhan utama Anda adalah fast charging yang andal, mobil bekas generasi sebelumnya masih menjadi pilihan yang lebih baik.