Atlet Muda Kaltim Borong Tiga Emas di Kejurnas Bola Tangan Surabaya, Bekuk Tuan Rumah Jawa Timur

Penulis: Prayoga Santana  •  Minggu, 09 Agustus 2026 | 23:56:31 WIB
Tim bola tangan Kalimantan Timur meraih tiga medali emas dan satu perak pada Kejurnas Junior Bola Tangan 2026 di Surabaya, Jawa Timur.

SAMARINDA — Kalimantan Timur (Kaltim) memborong tiga medali emas dan satu perak pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior Bola Tangan 2026 yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada 3–8 Agustus 2026. Hasil ini menempatkan Kaltim sebagai kontestan paling sukses di ajang tersebut.

Tim beranggotakan 12 atlet ini turun di dua nomor, yaitu Indoor dan Beach (pantai). Emas dipersembahkan oleh kategori Beach putra, Beach putri, dan Indoor putri. Satu-satunya laga yang gagal dimenangi adalah final Indoor putra, di mana Kaltim harus puas dengan medali perak setelah dikalahkan tuan rumah Jawa Timur.

Pelatih tim Bola Tangan Kaltim, Yulianto Efendi Sir, mengakui hasil ini melampaui target awal tim. Ia menyebut laga melawan Jawa Timur menjadi ujian terberat sepanjang turnamen.

"Awalnya kami tidak menyangka bisa menorehkan hasil sebagus ini. Musuh terberat selama kejuaraan tentu tuan rumah, Jawa Timur," ujar Yulianto.

Ia menambahkan, keberhasilan ini lahir dari mental bertanding dan konsistensi para atlet saat menghadapi tekanan. "Namun, berkat kerja keras dan perjuangan para atlet, kita bisa membuktikan kualitas Kaltim di tingkat nasional," katanya.

Zahir Rasydien: Medali adalah Bukti Lelah yang Terbayar Lunas

Salah satu atlet yang tampil menonjol adalah Zahir Rasydien, siswa SMPN 4 Balikpapan yang baru berusia 14 tahun. Remaja yang telah menekuni bola tangan selama empat tahun ini menyebut pengalaman bertanding di level nasional menjadi ruang pembentukan mental yang berharga.

Bagi Zahir, medali yang diraih bukan sekadar simbol kemenangan. Ada proses panjang yang tidak terlihat oleh penonton di balik logam yang digantungkan di lehernya.

"Motivasi terbesar saya bukan sekadar logam mengkilap yang ada di tangan ini, melainkan setiap proses berat yang membentuk saya untuk layak memegangnya," tutur Zahir.

"Motivasi saya adalah rasa hormat terhadap keringat, air mata, dan malam-malam panjang di mana tidak ada orang yang melihat, tetapi saya tetap memilih untuk bangkit dan berlatih lebih keras. Trofi ini adalah bukti bahwa lelah itu terbayar lunas," ujarnya.

Zahir menyampaikan apresiasi kepada orang tua, pelatih, dan pemerintah daerah yang mendukung perjalanannya. "Kemenangan ini dari dalam hati saya persembahkan untuk orang tua yang selama ini selalu mendukung, serta para pelatih yang selalu menyuruh saya berusaha keras dan pantang menyerah," tutupnya.

Fasilitas Latihan Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Di balik torehan prestasi, para atlet masih menghadapi keterbatasan fasilitas latihan dan akomodasi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi atlet yang berasal dari daerah yang relatif jauh dari pusat pembinaan olahraga, seperti Krayan Sentosa dan Long Ikis.

Dua peraih emas, De Andro Saputra Sir (19 tahun) dan Robert Alensky Allu Yatu (18 tahun), berharap capaian ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan perhatian terhadap pembinaan bola tangan. Menurut mereka, prestasi atlet seharusnya berjalan beriringan dengan peningkatan sarana latihan.

Ketersediaan fasilitas yang memadai dinilai penting untuk menjaga kesinambungan regenerasi atlet. Sebab, prestasi olahraga tidak lahir hanya dari pertandingan, melainkan dari proses panjang yang melibatkan pelatih, kompetisi berkelanjutan, dukungan keluarga, serta kebijakan pembinaan yang konsisten.

Selain Zahir, De Andro, dan Robert, perjuangan tim Kaltim juga diperkuat Hendrikus Bao Rabu dan Yohanes Anjas Saputra. Tiga emas dan satu perak dari Surabaya ini menjadi sinyal bahwa Kaltim memiliki fondasi kuat untuk melahirkan atlet bola tangan nasional di masa depan.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: portalsembilan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top