BMKG Samarinda Peringatkan Warga Kaltim Hadapi Kemarau Panjang, Puncak Kekeringan Diprediksi Agustus 2026

Penulis: Okta Nugraha  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 19:32:01 WIB
BMKG Samarinda memperingatkan warga Kalimantan Timur untuk mewaspadai kemarau panjang dengan puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus 2026.

SAMARINDA — Ancaman kekeringan panjang tengah membayangi Kalimantan Timur. BMKG Samarinda memperingatkan kolaborasi El Nino kuat dan potensi IOD positif bakal memicu musim kemarau yang lebih kering dari biasanya, dengan curah hujan rendah yang diprediksi berlangsung hingga awal tahun depan.

Prakirawan BMKG Samarinda, Fatuh Hidayatullah, Senin lalu, menjelaskan El Nino telah berada pada intensitas kuat dengan Indeks Nino 3,4 mencapai angka 1,56. Angka tersebut melampaui batas threshold kategori kuat yang berada di level 1,5.

El Nino Kuat Bertahan Hingga Awal 2027

"El Nino ini telah berada pada kondisi aktif dan pada intensitas kuat dengan Indeks Nino 3,4 yang sudah mencapai angka 1,56," kata Fatuh.

BMKG memprediksi kondisi El Nino kuat tersebut dapat bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Situasi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kaltim.

Ancaman tersebut diperkuat potensi munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia ini diprediksi berubah dari fase netral menjadi positif pada periode September hingga Desember.

Massa Udara Kering dari Timur Perparah Kondisi

Fatuh menjelaskan, jika El Nino dan IOD positif terjadi bersamaan, maka akan menciptakan skenario kemarau yang lebih panjang dan lebih kering. Kondisi ini turut diperkuat masuknya massa udara kering dari arah timur yang membawa udara relatif panas melintasi wilayah Kalimantan.

Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) BMKG menunjukkan sejumlah kabupaten/kota di Kaltim telah memasuki kategori HTH menengah, khususnya beberapa wilayah di bagian selatan provinsi ini.

Hujan Terakhir Bersifat Sementara, Warga Diimbau Tak Terlena

Meski beberapa hari terakhir sejumlah wilayah Kaltim masih diguyur hujan, Fatuh menegaskan kondisi tersebut tidak berarti ancaman kemarau telah berakhir. Hujan yang terjadi bersifat sementara akibat dinamika atmosfer, termasuk aktifnya gelombang Rossby dan Kelvin yang membawa tambahan uap air secara temporer.

"Untuk saat ini IOD masih berada pada fase netral. Namun diprediksi berubah menjadi IOD positif pada periode September hingga Desember," jelasnya.

Masyarakat diimbau tidak terlena dengan hujan yang turun belakangan ini. Curah hujan yang ada justru perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan air dan mengantisipasi kondisi kering yang berpotensi berlanjut.

BMKG mengingatkan warga untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau, termasuk potensi kekeringan dan kondisi lingkungan yang semakin kering. Pemanfaatan air secara bijak menjadi langkah awal yang bisa dilakukan sejak sekarang.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top