Gempa M 7,7 Guncang Nagekeo NTT, Dapur Rumah Warga Reo Ambruk dan Kebakaran Saat Panik

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:25:01 WIB
Dapur rumah warga di Kampung Reo, Manggarai, NTT, ambruk akibat gempa magnitudo 7,7 yang berpusat di Mbay, Nagekeo, Sabtu (15/8/2026).

KALIMANTAN TIMUR — Kepanikan massal mewarnai evakuasi warga di Kampung Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Mbay, Nagekeo, Sabtu (15/8/2026) dini hari. Meski jarak episentrum terbilang jauh, getarannya terasa sangat kuat dan memicu warga berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Situasi bertambah runyam setelah sebagian rumah warga justru dilalap api di tengah kekacauan evakuasi.

Dapur Ambruk dan Peringatan Tsunami Memicu Evakuasi Jarak Jauh

Baria (55), seorang warga setempat, menuturkan guncangan keras membuat bangunan dapur rumahnya langsung ambruk. Bersamaan dengan itu, peringatan dini tsunami yang dikeluarkan otoritas setempat memaksanya berlari meninggalkan rumah menuju kediaman anaknya yang berjarak beberapa kilometer dari pesisir.

"Dapur rumah ambruk. Kami panik langsung evakuasi ke rumah anak sekitar beberapa kilometer dari rumah. Karena ada peringatan tsunami," ujarnya kepada Liputan6.com, Sabtu (15/8/2026).

Hingga berita ini diturunkan, warga masih bertahan di lokasi yang lebih aman dan belum berani kembali ke rumah mereka. Ketakutan akan gelombang susulan dan bangunan yang rapuh masih menyelimuti warga.

Api Menyala Saat Warga Berhamburan Keluar Rumah

Jufri Husen (37), warga Reo lainnya, mengungkapkan api muncul dari beberapa rumah saat semua penghuni berfokus pada penyelamatan diri. Tidak ada upaya pemadaman yang efektif karena petugas pemadam kebakaran belum tiba di lokasi hingga beberapa jam setelah kejadian.

"Beberapa rumah di kampung kami kebakaran karena panik gempa. Tapi belum ada damkar," kata Jufri.

Ia menambahkan, warga sama sekali tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena getaran yang terjadi terus-menerus. Prioritas utama saat itu hanyalah membawa keluarga menjauh dari bangunan yang berpotensi runtuh.

Gempa Susulan yang Tak Kunjung Berhenti

Aktivitas seismik di wilayah tersebut belum mereda. Warga mengaku getaran susulan dengan skala lebih kecil masih kerap terasa, membuat situasi psikologis mereka semakin tertekan. "Gempa tadi subuh. Kami panik. Gempa tidak berhenti sampai sekarang," tutur Baria.

Kondisi ini memaksa warga untuk tetap berada di ruang terbuka dan menjauh dari struktur bangunan yang telah melemah. Mereka belum menerima informasi resmi kapan situasi dinyatakan aman untuk kembali ke kediaman masing-masing.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir NTT pasca-gempa utama, yang kemudian dinyatakan berakhir. Namun, imbauan untuk tetap waspada terhadap gempa susulan masih berlaku hingga saat ini.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top