NUSANTARA — Lebih dari 2.000 orang memadati Ruang Terbuka Hijau Kolam Retensi DAS Sanggai, kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) IKN, Sabtu pekan lalu. Mereka berasal dari berbagai elemen: pejabat negara, anggota Pramuka, pelajar, pedagang, masyarakat adat, pelaku usaha, hingga tenaga medis. Semua datang dengan satu tujuan: menanam pohon dalam kegiatan bertajuk "Merdeka Bersama Alam".
Basuki Hadimuljono, Kepala Otorita IKN, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremonial hari besar. Penanaman pohon, kata dia, adalah kebiasaan dan gaya hidup yang harus tumbuh untuk mencintai negeri.
Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri, yang hadir langsung mencatat momen tersebut sebagai rekor superlatif. Penanaman 1.708 bibit dari 19 jenis dalam satu waktu dengan data terverifikasi menjadi yang terbanyak di kawasan taman kota.
Setiap bibit yang ditanam di IKN melalui seleksi ketat. Sebagian besar merupakan pohon kayu khas Kalimantan: ulin yang tahan lapuk, meranti yang menjulang, bengkirai yang kokoh, gaharu yang harum, balangeran yang tangguh di tepian air, serta keruing yang menjadi bagian penting hutan hujan tropis.
Jenis pohon buah juga ditanam, mulai dari rambutan, kesturi, mata kucing, hingga langsat. Selain memberi keteduhan, pohon-pohon ini diharapkan menjadi sumber pakan bagi satwa liar yang perlahan kembali ke kawasan tersebut.
Langkah ini diarahkan untuk mengembalikan fungsi ekosistem. Sebagian kawasan IKN sebelumnya didominasi perkebunan monokultur eukaliptus yang seragam dan relatif miskin keanekaragaman hayati. Kini, pohon-pohon endemik ditanam dalam kelompok yang meniru struktur hutan alam dengan tajuk berlapis.
Tanda-tanda pemulihan ekosistem mulai terlihat. Beruang madu yang pernah menghuni kawasan ini kembali terlihat berkelana di pepohonan. Lutung merah, primata langka dengan bulu kemerahan, melompat dari satu dahan ke dahan lain. Burung-burung yang sempat kehilangan habitat mulai terdengar lagi pada pagi hari.
IKN menargetkan 65 persen wilayahnya menjadi kawasan hijau, meningkat dari sekitar 40 persen pada awal pembangunan. Koridor satwa juga disiapkan untuk menghubungkan kawasan hijau yang terpisah, memungkinkan satwa berpindah tanpa berhadapan dengan jalan raya atau bangunan.
Keunikan aksi penanaman kali ini ada pada pendokumentasiannya. Seluruh proses dilakukan secara digital melalui aplikasi IKNOW yang dikembangkan Kedeputian Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN.
Setiap pohon diverifikasi melalui geotagging dan swafoto peserta di lokasi. Dengan begitu, setiap bibit tercatat, diketahui titik penanamannya, dan dapat dipantau pertumbuhannya dari waktu ke waktu.
Penanaman rutin digelar setiap dua minggu dengan rata-rata 800–900 pohon per kegiatan, di luar penanaman mandiri oleh pengunjung. Angka ini membuktikan bahwa penghijauan IKN telah bertransformasi menjadi gerakan massal masyarakat, bukan sekadar proyek pemerintah.