SAMARINDA — Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kaltim Wahyu Gatut Purboyo menegaskan transformasi ekonomi diperlukan untuk memperkuat sektor unggulan yang sudah ada sekaligus menyiapkan industri baru yang lebih berkelanjutan. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka diskusi putaran 3 Forum Konsultasi Daerah untuk Percepatan Transformasi Ekonomi Kalimantan Timur di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu.
Menurut Wahyu, jejak transformasi ekonomi di Kaltim sebenarnya sudah berlangsung lama. Pada era 1970-an, perekonomian daerah ditopang sektor kehutanan, kemudian bergeser ke komoditas batu bara pada awal 2000-an.
Kini, sektor lain seperti perkebunan kelapa sawit mulai menunjukkan kontribusi yang semakin besar terhadap struktur ekonomi daerah. Namun, sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung utama.
“Pertambangan memang masih menjadi sektor utama, tetapi sumber daya itu tidak selamanya ada. Karena itu, kita harus menyiapkan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan,” tegas Wahyu dalam keterangannya di Samarinda.
Diskusi yang dipandu oleh Ade Cahyat dari GIZ tersebut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan strategis. Hadir antara lain Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Sri Wahyuni, Kepala Direktorat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah OJK Kaltim-Kaltara Misyar Borowisanto, serta Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Bayuadi Hardiyanto.
Perwakilan organisasi usaha dan profesi juga turut ambil bagian, seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI).
Ketergantungan pada komoditas yang sangat dipengaruhi harga dan permintaan global dinilai perlu diantisipasi melalui perencanaan yang matang. Arah transformasi ini tidak hanya berfokus pada pengembangan sektor eksisting, tetapi juga mendorong lahirnya sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Forum lintas sektor ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menyusun arah pembangunan ekonomi Kaltim menuju 2045 yang lebih tangguh, inklusif, dan tidak bergantung pada sumber daya alam tidak terbarukan.