Empat bakal calon Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan memaparkan visi, misi, dan program kerja periode 2026-2030 dalam Sidang Terbuka Pemilihan Rektor, Kamis. Seluruh kandidat menitikberatkan strategi penguatan riset, inovasi, dan digitalisasi untuk mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
BALIKPAPAN — Proses demokrasi akademik di Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan memasuki tahap krusial. Empat bakal calon rektor menyampaikan gagasan mereka di hadapan sivitas akademika dalam Sidang Terbuka Pemilihan Rektor untuk periode 2026-2030, Kamis.
Mereka adalah Prof Imam Abadi, Dr Moch. Purwanto, Prof Agung Purniawan, dan Prof Fredy Kurniawan. Keempatnya kompak menjadikan sektor pendidikan, riset, inovasi, sumber daya manusia (SDM), digitalisasi, hingga internasionalisasi sebagai fondasi pengembangan institusi.
Prof Imam Abadi mengusung visi INSUN, singkatan dari Innovative, Smart, Sustainable University for Nusantara. Visi ini ditopang enam pilar utama, mulai dari pendidikan adaptif berkarakter hingga transformasi digital.
Gagasan tersebut merujuk pada semboyan "Menerangi Masa Depan Nusantara: ITK Berdampak, Nusantara Berdaya". Fokusnya pada pengembangan kampus yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Dr Moch. Purwanto menawarkan lima arah pengembangan ITK. Cakupannya meliputi pendidikan unggul, riset berdampak, transformasi digital, kemandirian institusi, serta tata kelola dan SDM unggul.
Program kerja yang ditawarkan antara lain revitalisasi kurikulum adaptif, pembentukan kelompok riset, hilirisasi penelitian, penguatan perpustakaan digital, serta pengembangan jejaring alumni dan unit usaha kampus.
Konsep ITK RISE 2045 diusung Prof Agung Purniawan. Konsep ini berbasis pada Research, Innovation, Sustainability, dan Excellence.
Agung menargetkan ITK menjadi perguruan tinggi riset berkelas dunia. Namun, ia menegaskan kampus tetap berakar pada kearifan lokal Kalimantan melalui program kurikulum berbasis proyek, magang industri terstruktur, laboratorium berstandar internasional, Science Techno Park, serta akreditasi internasional.
Prof Fredy Kurniawan menekankan tiga aspek utama: daya saing global, kearifan lokal, dan pembangunan berkelanjutan. Ia ingin menempatkan ITK pada posisi strategis dalam ekosistem pendidikan tinggi.
Menurut Fredy, ITK harus menjadi pusat unggulan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendunia, tetapi tetap membumi pada kearifan lokal.
Rektor ITK, Prof Agus Rubiyanto, menilai tahapan ini sebagai ruang bagi sivitas akademika untuk menilai arah kepemimpinan dan strategi pengembangan kampus teknologi selama empat tahun ke depan.
"Gagasan, inovasi dan program yang disampaikan para bakal calon hari ini akan menjadi kompas penting bagi arah kebijakan serta kemajuan sains dan teknologi ITK di masa mendatang," ujar Agus di Balikpapan, Kamis.
Ia menambahkan bahwa penyampaian visi dan misi ini merupakan bagian penting dari demokrasi akademik yang dilaksanakan secara terbuka sekaligus dapat dipertanggungjawabkan.
Secara umum, pemaparan keempat kandidat menunjukkan arah masa depan ITK yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jumlah mahasiswa dan infrastruktur. Arah pengembangan juga menyentuh relevansi pendidikan dengan industri, riset berdampak nyata, serta posisi strategis ITK dalam mendukung pembangunan Pulau Kalimantan dan IKN.