SAMARINDA — Praktik Salat Istisqa memiliki dasar kuat dari hadis riwayat Abdullah bin Zaid yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW disebut pernah keluar menuju tanah lapang untuk memohon hujan, menghadap kiblat, membalik selendangnya, kemudian melaksanakan salat dua rakaat.
Secara umum, tata cara Salat Istisqa hampir sama dengan Salat Id. Namun, terdapat sejumlah kekhususan yang membedakannya, mulai dari tempat pelaksanaan hingga bacaan doa yang dipanjatkan khatib.
Salat Istisqa dianjurkan digelar secara berjemaah di tempat terbuka. Hal ini mengikuti praktik Nabi yang keluar menuju musala untuk melaksanakan istisqa. Meski demikian, pelaksanaan tetap diperbolehkan di masjid apabila kondisi tidak memungkinkan untuk berkumpul di luar ruangan.
Dalam pelaksanaannya, seluruh lapisan masyarakat dianjurkan hadir, termasuk orang tua, anak-anak, dan mereka yang lemah secara fisik. Sebelum berangkat, umat Islam disunnahkan memperbanyak istigfar, bertobat, bersedekah, serta meninggalkan perbuatan maksiat sebagai bentuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT.
Salat Istisqa terdiri atas dua rakaat tanpa didahului azan dan iqamah. Pada rakaat pertama, imam membaca takbir sebanyak tujuh kali setelah takbiratul ihram sebelum membaca Surah Al-Fatihah. Adapun pada rakaat kedua, takbir dibaca sebanyak lima kali sebelum membaca Al-Fatihah.
Jemaah juga dianjurkan mengenakan pakaian sederhana. Sikap ini menjadi simbol kerendahan hati seorang hamba yang sedang memohon pertolongan kepada Sang Pencipta di tengah kesulitan.
Setelah salam, khatib menyampaikan khotbah. Berbeda dengan khotbah Salat Id yang dibuka dengan takbir, khotbah istisqa justru dimulai dengan bacaan istigfar. Sebelum khotbah pertama, khatib membaca istigfar sebanyak sembilan kali, dan tujuh kali sebelum khotbah kedua.
Salah satu bacaan istigfar yang dianjurkan adalah Astaghfirullahal ‘azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaihi. Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Pada puncak doa, khatib dan jemaah dianjurkan membalik atau memutar pakaian luar seperti selendang atau sorban. Praktik ini memiliki dasar dari hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari. Setelah menghadap kiblat, Nabi SAW membalik selendangnya sebelum melaksanakan salat dua rakaat.
Gerakan membalik pakaian ini dimaknai sebagai pengharapan agar Allah SWT mengubah keadaan dari kekeringan panjang menjadi turunnya hujan yang membawa berkah bagi seluruh makhluk.
Untuk memudahkan pemahaman, berikut rangkuman urutan pelaksanaan Salat Istisqa yang dirangkum dari literatur fikih:
Amalan ini menjadi pengingat bahwa di tengah keterbatasan ilmu dan teknologi, manusia pada akhirnya tetap bersandar pada kekuatan Yang Maha Kuasa. Bagi warga Kalimantan Timur yang tengah dilanda kemarau, Salat Istisqa menjadi salah satu jalan untuk mengadu dan memohon pertolongan.