SAMARINDA — Kekeringan yang melanda Kalimantan Timur mulai menekan sektor pertanian. Hingga Agustus 2026, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim mencatat sekitar 2.000 hektare lahan pertanian di sejumlah kabupaten/kota terdampak, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala DPTPH Provinsi Kaltim, Fahmi Himawan, menyebutkan pada Juli lalu sempat terjadi puso atau gagal panen seluas 25 hektare. Namun memasuki Agustus, kondisi tersebut belum bertambah meski luas lahan yang mengalami kekeringan terus bertambah.
"Di bulan Juli sempat ada puso 25 hektare, tapi di Agustus alhamdulillah belum ada puso. Namun memang terjadi peningkatan yang mengalami dampak iklim berupa kekeringan, sekarang angkanya sudah 2.000-an hektare tersebar di beberapa kabupaten/kota," ujar Fahmi, Jumat (28/8/2026).
Pemprov Kaltim tidak tinggal diam. Sejak 2024, DPTPH telah menyalurkan lebih dari 300 unit pompa air ke berbagai kabupaten/kota. Pompa tersebut dirancang mobile sehingga bisa dipindahkan secara cepat ke lokasi yang mengalami krisis air.
"Pompa yang kita punya itu sifatnya mobile. Jadi ketika sekarang ada lokasi yang mengalami kekeringan, pompa tersebut bisa kita pindahkan ke lokasi-lokasi yang memang membutuhkan," kata Fahmi.
Untuk mengoperasikan pompa tersebut, pemerintah daerah mengalokasikan bantuan BBM melalui UPTD Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura. Bantuan diberikan berdasarkan usulan kelompok tani yang didampingi petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), kemudian diverifikasi langsung ke lapangan.
Di sejumlah titik yang debit airnya menyusut drastis, DPTPH berkolaborasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mengirim air menggunakan truk tangki. Air tersebut dimanfaatkan untuk mengisi saluran irigasi dan sumber air yang mulai kering.
Langkah yang lebih besar juga disiapkan lewat usulan operasi modifikasi cuaca (OMC) ke level gubernur. Fahmi menjelaskan, OMC yang sebelumnya difokuskan untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan, diharapkan sekaligus mengisi waduk, bendungan, dan embung yang kosong.
"Tertujunya memang kepada pengendalian kebakaran hutan dan lahan, tetapi itu juga akan berdampak positif kepada pengisian waduk, bendungan, dan embung yang kosong," jelasnya.
Ketersediaan air menjadi semakin krusial karena Pemprov Kaltim tengah mendorong pengembangan pertanian modern di sejumlah lokasi. Program ini membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar karena penanaman dilakukan dalam skala luas.
"Di beberapa lokasi yang kita targetkan untuk pertanian modern, akan dilakukan penanaman dalam jumlah besar dan pasti membutuhkan air. Nah, itu juga menjadi salah satu yang kita harapkan dari OMC tadi," pungkas Fahmi.