SAMARINDA — Peningkatan kasus ISPA di Kalimantan Timur tercatat pada kisaran 10–20 persen selama musim kemarau. Kondisi cuaca kering dan berangin membuat partikel debu mudah beterbangan, sehingga warga diminta melindungi diri dengan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim Jaya Mualimin menyebut kenaikan itu masih bersifat fluktuatif dan wajar karena siklus musiman. "Peningkatan tersebut masih berada pada kisaran 10–20 persen, masuk peningkatan kasus fluktuatif wajar karena siklus musiman," ujarnya di Samarinda, Minggu lalu.
Mengacu catatan Dinkes Kaltim sejak Januari, sejumlah kabupaten/kota mencatat kasus ISPA cukup tinggi. Berikut rincian angkanya:
Beban kasus terbesar berada di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan mobilitas tinggi.
Jaya menjelaskan, tingkat kekeringan meningkat saat kemarau. Angin yang cukup kencang kemudian mengangkat debu dari permukaan tanah, membuat partikel halus mudah terhirup.
Anak-anak dan kelompok rentan disebut paling berisiko mengalami gangguan pernapasan akibat paparan ini. Penggunaan masker dinilai menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menekan risiko penularan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri, terutama saat beraktivitas di luar ruangan," kata Jaya. Warga yang mengalami gejala seperti batuk, sesak, atau iritasi tenggorokan diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
Dinkes bersama jajaran di kabupaten/kota terus memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari antisipasi dampak musim kemarau agar warga tetap sehat dan produktif di tengah cuaca ekstrem.