Kekeringan imbas El-Nino melanda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) selama berbulan-bulan. Dampak terparah dirasakan petani di Kecamatan Sangatta Selatan. Sumber air mengering, membuat lahan pertanian sawah dan hortikultura terancam gagal panen.
Sangatta (ANTARA) - Fenomena El-Nino yang memicu kemarau panjang menghantam sektor pertanian di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutim. Parit utama yang menjadi sumber pengairan mulai mengering, mengancam gagal panen.
"Kekeringan panjang tahun ini yang terparah selama saya menjadi petani di sini. Lahan kami mengalami kekeringan akibat parit utama yang menjadi sumber pengairan mengering," ucap Ketua Tani Adem Ayem di Kelurahan Singa Geweh, Djunaidi, di Sangatta, Rabu (2/9).
Djunaidi membawahi 12 anggota kelompok tani yang menggarap total lahan 15 hektare sawah dan hortikultura. Dampak kekeringan terasa sangat parah dan melumpuhkan aktivitas bercocok tanam mereka.
Tanaman melon menjadi korban paling besar dan dipastikan gagal panen. Tanaman mati saat memasuki masa berbuah akibat kekurangan air, dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp70 juta.
Nasib serupa menimpa tanaman bawang prei yang mengering sebelum dipanen. Padahal, dalam kondisi normal, produksi bawang prei bisa mencapai sekitar 300 kilogram dalam sekali panen.
Tanaman kemangi yang ditanam sebagai upaya alternatif untuk mempertahankan pendapatan petani juga mengalami nasib serupa. Tanaman ini layu dan mengering akibat minimnya pasokan air.