KALIMANTAN TIMUR — Data Kelley Blue Book menunjukkan pembeli mobil listrik baru membayar rata-rata USD 54.813 pada Agustus. Angka itu turun 1,2 persen dibanding Juli dan 2,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di saat yang sama, harga transaksi rata-rata industri naik ke USD 50.089. Kenaikan 0,5 persen month over month dan 1,9 persen year over year itu menandai pertama kalinya sepanjang 2026 harga rata-rata kendaraan baru kembali menembus USD 50.000.
Dengan pergerakan dua arah tersebut, premium harga mobil listrik kini berada di 9,4 persen. Setahun sebelumnya, selisihnya masih di atas 16 persen.
Dalam angka dolar, mobil listrik rata-rata sekitar USD 4.700 lebih mahal dari kendaraan baru biasa. Ini menjadi gap terkecil yang tercatat sejauh ini, meski harga keduanya belum benar-benar setara.
Penurunan harga EV terjadi meski pabrikan sedikit mengurangi insentif. Belanja insentif rata-rata setara 12 persen dari harga transaksi sebuah EV pada Agustus, turun dari 12,2 persen pada Juli dan 14,6 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Meski mengecil, insentif mobil listrik masih hampir dua kali lipat rata-rata industri yang sebesar 6,5 persen.
Tesla masih menekan rata-rata harga EV secara keseluruhan. Harga transaksi rata-rata merek itu turun ke USD 52.616 pada Agustus, turun 2,4 persen dari Juli dan 3,4 persen year over year.
Porsi Tesla yang masih besar dalam penjualan EV di Amerika Serikat membuat pergerakan harganya berdampak besar pada pasar secara keseluruhan.
Mobil listrik belum mencapai paritas harga dengan kendaraan berbahan bakar konvensional. Namun jaraknya terus mengecil di tengah harga mobil baru rata-rata yang justru naik.