BMKG Klaim Modifikasi Cuaca Redam Asap Karhutla dan Percepat Hujan

Penulis: Ridho Pratama  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 12:51:02 WIB
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hasil operasi modifikasi cuaca dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10).

KALIMANTAN TIMUR — BMKG mengeklaim operasi modifikasi cuaca dengan kombinasi dry ice dan NaCl berhasil memicu hujan intensif di Sumatra Selatan serta Kalimantan Tengah dan Selatan. Operasi ini dijalankan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan, menekan polusi asap, dan menstabilkan suhu udara. Keberhasilan penyemaian awan itu jadi uji nyata teknologi mitigasi bencana di tengah musim kemarau panjang.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hasil operasi modifikasi cuaca (OMC) dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10). Menurut dia, hujan turun dengan sangat intensif di sejumlah wilayah setelah penyemaian dilakukan.

Faisal menyebut laporan lapangan dari Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menunjukkan pola serupa. Hujan deras muncul tak lama setelah operasi gabungan dry ice dan NaCl dijalankan di titik-titik penyemaian.

Mengapa Modifikasi Cuaca Dijalankan Sekarang

Musim kemarau tahun ini diperparah kombinasi fenomena El Nino dan IOD. Sejumlah wilayah mengalami kekeringan berkepanjangan, sementara karhutla sulit dipadamkan dan asapnya menutup langit.

Kondisi itu mendorong pemerintah menjalankan OMC sebagai upaya pemadaman kebakaran hutan, penekan polusi dan penyebaran asap, sekaligus penstabil suhu udara. Operasi diarahkan ke wilayah yang paling terdampak asap dan kekeringan.

Cara Kerja Cloud Seeding di Lapangan

Modifikasi cuaca dilakukan lewat teknik cloud seeding, yakni penyemaian natrium klorida (NaCl) atau garam ke awan tertentu. Partikel garam membantu proses penggabungan uap dan butiran air sehingga pembentukan hujan bisa dipercepat.

Penyemaian tidak bisa dilakukan sembarangan. BMKG lebih dulu memantau kondisi atmosfer untuk menentukan titik semai yang tepat.

Pengukuran radiosonde dipakai untuk mengetahui profil suhu dan tekanan udara di atmosfer. Dari data itu, tim mengidentifikasi posisi lapisan inversi sebelum menentukan lokasi penyemaian.

"Kita melakukan uji radiosonde naik ke atas, untuk mengetahui berapa suhu dan tekanan udara, profilling di atas, sehingga kita tahu persisi di bagian mana lapisan inversinya. Lalu, penyemaian kita lakukan pada titik tersebut," ungkap Faisal.

Kombinasi Dry Ice dan NaCl

Asap karhutla menutupi cahaya matahari dan mengganggu proses pembentukan awan hujan. Karena itu, OMC di beberapa wilayah Indonesia memakai kombinasi penyemaian dry ice dan NaCl.

Dry ice berfungsi mengurangi kepekatan asap dengan membongkar lapisan inversi, yaitu kondisi udara panas di atmosfer yang membuat asap terperangkap di ketinggian 6.000 sampai 7.000 kaki. Dry ice mendinginkan lapisan itu sehingga perputaran udara lancar dan asap naik.

Saat asap menipis, cahaya matahari masuk dan memicu penguapan air. Potensi pembentukan awan hujan pun meningkat. Setelah lapisan inversi terbuka, BMKG kembali menyemai dengan NaCl untuk mempercepat pembentukan awan dan peluang hujan di titik tersebut.

Indikasi Hasil di Wilayah Terdampak

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Tri Handoko Seto menyatakan intervensi dry ice menunjukkan indikasi dampak yang cukup baik dalam beberapa hari pelaksanaan. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik, seperti yang sempat terjadi di Palembang beberapa hari lalu.

Perbaikan jarak pandang jadi penanda awal bahwa lapisan asap mulai terbongkar. Setelah itu, penyemaian NaCl diarahkan untuk mempercepat hujan di wilayah yang sama.

BMKG menegaskan OMC bukan pengganti upaya pemadaman karhutla di darat. Operasi ini bekerja mempercepat hujan dan membuka lapisan asap agar proses pemadaman serta penanganan polusi lebih efektif.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top