KALIMANTAN TIMUR — Peralihan ke mobil listrik di Amerika Serikat semakin terlihat di kalangan penggemar otomotif, dipicu biaya bahan bakar yang terus naik. Seorang kolektor mobil modifikasi rela melepas Dodge Charger AWD demi Nissan Leaf bekas seharga 4.500 dolar AS. Perhitungan biaya operasional jadi alasan utama, bukan sekadar tren teknologi.
Diskusi soal mobil listrik versus kendaraan bermesin bensin kembali menghangat setelah harga BBM di Amerika Serikat melonjak. Jurnalis otomotif Jalopnik membagikan pengalaman pribadinya mengunjungi rumah seorang kolega yang baru saja membeli Nissan Leaf bekas dengan harga sangat murah. Keputusan itu diambil setelah biaya operasional Dodge Charger AWD miliknya membengkak.
Nissan Leaf Bekas 4.500 Dolar AS Gantikan Dodge Charger
Prihatin dengan pengeluaran kendaraan bensin, pria tersebut menjual Dodge Charger AWD berjarak tempuh rendah. Biaya asuransi, ganti oli, ban, ditambah tagihan perawatan Stellantis yang menumpuk membuatnya mencari alternatif. Nissan Leaf bekas seharga 4.500 dolar AS dianggap bisa balik modal dalam waktu singkat lewat perjalanan harian lokal.
Paket pembelian Leaf itu turut menyertakan satu set ban musim dingin dan charger dinding Level 2. Kombinasi penghematan bahan bakar dan perlengkapan bawaan mempercepat perhitungan titik impas. Pemiliknya bukan orang awam soal mesin, melainkan penggemar berat mobil modifikasi dengan bengkel pribadi seluas beberapa kali rumah jurnalis tersebut.
Pemilik Mobil Klasik Pun Mulai Berhitung Ulang
Perubahan sikap kalangan petrolhead ini dinilai mencerminkan pergeseran pasar yang lebih luas. Sosok yang biasa dimintai bantuan menyetel karburator dan membuat fender flare itu disebut bukan tipe yang langsung mengadopsi teknologi baru tanpa alasan kuat. Harga BBM yang mahal menjadi pemicu rasional di balik keputusannya.
Jalopnik lantas melempar pertanyaan ke pembaca: apakah lonjakan harga bensin membuat mereka mempertimbangkan kendaraan listrik. Kolom komentar dibanjiri tanggapan beragam, dari pengguna setia EV hingga pemilik yang masih memegang prinsip kendaraan bensin.
Dari R33 GT-R hingga Ionic 5 N
Salah satu pembaca mengaku akan menjual Nissan Skyline R33 GT-R kesayangannya setelah tiga tahun dipakai. Ia berencana beralih ke Hyundai Ionic 5 N atau Ionic 6. Komentar lain menyoroti skenario yang lebih ekstrem, yakni bagaimana masyarakat bertahan jika jatah pembelian bensin dibatasi per hari.
Sejumlah pembaca menilai peralihan ke listrik sudah menjadi keniscayaan jangka panjang. Ada yang mengaku 22 tahun tidak memakai bensin, kecuali metana atau hidrogen, dan menyebut mobil listrik masa kini jauh lebih matang dibanding EV1 era General Motors. Peningkatan jangkauan, efisiensi, kenyamanan, dan keselamatan dinilai akan terus berlanjut.
Masalah Edukasi di Diler Jadi Sorotan
Kritik muncul soal cara pabrikan memasarkan kendaraan listrik. Seorang pembaca berpendapat cara terbaik menjual EV adalah membiarkan calon pembeli mencobanya langsung. Namun ia menyoroti kurangnya pemahaman staf diler, sehingga konsumen kerap lebih tahu soal produk daripada tenaga penjualnya.
Faktor pendukung lain yang disebut adalah kepemilikan panel surya. Satu pembaca mengaku tagihan listriknya minus 375 dolar AS berkat energi matahari, sehingga pengisian daya kendaraan listrik terasa nyaris gratis. Alasan ekonomi, bukan sekadar idealisme lingkungan, tampak mendominasi pilihan responden.