BALIKPAPAN — Volume air baku di Waduk Teritip terus menurun tajam hingga mendekati ambang mati operasional. PTMB menyebut operator kini membatasi penyedotan secara drastis agar sistem pompa intake tidak rusak. Pembatasan itu berdampak langsung pada distribusi air ke warga di wilayah pelayanan IPA Teritip.
Direktur Utama PTMB Yudhi Sahruddin menyebut ketersediaan air di waduk tinggal 670 kubik. Ambang batas mati operasional berada di level 500 kubik.
"Perkiraan saat ini daya tampung Waduk Teritip hanya 670 kubik dan dead storage di level 500 kubik. Jika masuk level tersebut, kita sudah tidak bisa lagi mengambil air dari Waduk Teritip," kata Yudhi Sahruddin.
Jika volume menyentuh level itu, PTMB kehilangan kemampuan menyedot air baku dari waduk. Kondisi tersebut yang membuat manajemen mempercepat langkah darurat.
Armada tangki dikerahkan untuk melayani permukiman yang distribusinya terhenti. Unit pengolahan air darurat atau IPA Mobile dipindahkan dari kawasan utara ke Gunung Tembak di sisi timur Balikpapan.
"IPA Mobile ditempatkan di Gunung Tembak. Tadinya di utara dan kami pindahkan ke timur karena kondisi Waduk Teritip yang mengalami krisis. Ini menjadi bantuan untuk suplai ke warga melalui tangki," tutur Yudhi.
Selain itu, PTMB mengeksplorasi sumur air tanah di kawasan timur sebagai sumber pasokan alternatif. Opsi itu disiapkan sembari menunggu debit air permukaan naik.
Direktur Teknik dan Operasional PTMB M Kohirudin menyatakan pihaknya menyiapkan rencana jangka menengah. Aset instalasi lama yang sempat dinonaktifkan akan difungsikan kembali.
Instalasi tersebut berhenti beroperasi setelah IPA baru berkapasitas 220 liter per detik mulai berjalan. Kini PTMB berencana membangun ulang IPA berkapasitas 50 liter per detik di lokasi aset lama.
"Karena krisis air baku perlu mencari solusi, aset yang ada akan kita manfaatkan lagi dengan membangun ulang IPA kapasitas 50 liter per detik," ujar M Kohirudin.
Rencana pembangunan kembali IPA Teritip lama telah disampaikan ke instansi terkait. PTMB berkoordinasi resmi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV dan BPBPK Kaltim untuk mempercepat realisasi penanganan keterbatasan air baku.
Manajemen berharap kemerosotan volume air tidak berlanjut hingga November 2026. PTMB menargetkan tampungan waduk kembali normal pada November hingga Desember seiring peralihan musim hujan.