SAMARINDA — Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai menyatakan perlu dibedakan antara struktur ekonomi dan kemampuan setiap lapangan usaha menyerap pekerja. Pertambangan dan penggalian memang mendominasi perekonomian Kaltim, tetapi kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja hanya 7,6 persen.
"Secara ekonomi Kaltim itu didominasi oleh pertambangan dan penggalian. Tapi penyerapan tenaga kerjanya hanya 7,6 persen," ujarnya kepada EksposKaltim.
Angka tersebut menempatkan pertambangan jauh di bawah pertanian yang menampung 19,01 persen pekerja. Perdagangan besar dan eceran berada di posisi kedua dengan 17,40 persen, sementara akomodasi dan makan minum menyerap 9,52 persen.
Rifai mengingatkan, besarnya porsi pekerja pertanian tidak otomatis menggambarkan dominasi usaha tani tanaman pangan. Struktur pertanian Kaltim memiliki karakteristik tersendiri karena didominasi perkebunan.
"Tanaman pangan kita itu porsinya sedikit sekali. Paling besar itu perkebunan untuk di Kaltim," jelasnya.
Komposisi subsektor itu penting untuk memahami jenis kegiatan ekonomi yang menampung pekerja. Porsi tanaman pangan dan hortikultura relatif kecil dibanding perkebunan.
BPS mencatat penduduk usia kerja Kaltim pada Mei 2026 mencapai 3.209,14 ribu orang atau sekitar 3,21 juta jiwa. Dari jumlah itu, 2.124,28 ribu orang masuk angkatan kerja dan 1.084,86 ribu lainnya tergolong bukan angkatan kerja.
Penduduk yang bekerja tercatat 2.012,91 ribu orang, sementara pengangguran sebanyak 111,37 ribu orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kaltim berada di angka 5,24 persen, turun tipis dari Februari 2026 yang sebesar 5,27 persen.
Rifai menegaskan angka TPT perlu dibaca bersama perkembangan jumlah pekerja, karakteristik lapangan usaha, serta perubahan kondisi ekonomi. Perubahan porsi penyerapan tenaga kerja pertambangan juga perlu dilihat melalui data pembanding Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).
PHK di sektor pertambangan tidak selalu langsung tercermin dalam kenaikan angka pengangguran. Salah satu faktor yang diperhitungkan ialah karakteristik hubungan kerja dan kompensasi yang diterima pekerja saat kehilangan pekerjaan.
Perusahaan pertambangan umumnya berskala besar dengan sistem penggajian. Pekerja yang terkena PHK berpotensi memperoleh pesangon, sehingga dampak kehilangan pekerjaan terhadap ekonomi rumah tangga tidak selalu muncul seketika.
"Kalau pesangon, minimal efeknya kalau dia terus bertahan tidak bekerja, akan kepotret oleh kita itu mungkin tiga bulan, enam bulan, bahkan satu tahun ke depannya," ujar Rifai.
Pekerja pertambangan juga dinilai punya peluang berpindah ke pekerjaan lain. Menurut Rifai, kemampuan yang dimiliki pekerja sektor tersebut memungkinkan mereka mencari alternatif setelah kehilangan pekerjaan.
"Karena biasanya orang yang kerja di pertambangan orang yang punya kemampuan lebih dan kemungkinan besar dia sudah switching mencari pekerjaan," tuturnya.
BPS mencatat perubahan komposisi tenaga kerja sepanjang Februari hingga Mei 2026. Proporsi pekerja pada sektor pendidikan meningkat paling tinggi dibandingkan sektor lain dalam periode tersebut.
Pergeseran komposisi ini memperkuat catatan Rifai bahwa kondisi ketenagakerjaan Kaltim tidak bisa dibaca hanya dari satu sektor. Dominasi tambang dalam struktur ekonomi daerah berjalan berdampingan dengan pertanian dan perdagangan sebagai penampung pekerja terbesar.