BONTANG — Dua bocah kelas akhir SD itu tampil tanpa sepatah kata pun di atas panggung. Gerakan tubuh dan ekspresi wajah menjadi satu-satunya alat bercerita. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Muhammad Putra Zamon dan Reyzaldy membawa penonton dan dewan juri larut dalam petualangan dua sahabat yang mendaki gunung demi mencapai puncak impian.
Cerita yang mereka bawakan bukan sekadar pementasan. Ada adegan di mana salah satu tokoh hampir menyerah karena kelelahan dan rasa lapar di tengah perjalanan. Namun, dorongan dari teman membuat mereka bangkit dan terus melangkah hingga akhirnya berhasil.
Pesan Sederhana: Jangan Mudah Menyerah
Koordinator Kesiswaan SDN 011 Bontang Selatan, Maria Ekawati, mengatakan tema pendakian sengaja dipilih karena dekat dengan keseharian anak-anak. Menurutnya, cerita itu bisa menjadi metafora tentang arti perjuangan dan pentingnya saling mendukung.
"Pesan yang ingin disampaikan sederhana, yaitu jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan," ujar Maria, Kamis (14/5/2026).
Latihan Intensif di Bawah Bimbingan Pembina
Di balik kemenangan itu, ada kerja keras panjang. Maria mengungkapkan bahwa pembina Ivonnisa Castelive telah melatih kedua siswa secara intensif, mulai dari teknik gerakan hingga penghayatan karakter. Latihan rutin dilakukan agar mereka tampil percaya diri saat berhadapan dengan peserta dari sekolah lain dan dewan juri.
"Semoga pengalaman ini membuat mereka semakin semangat mengembangkan bakat di bidang seni," tutup Maria.
Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi SDN 011 Bontang Selatan. Di tengah gempuran gawai dan hiburan digital, dua siswa ini memilih menghabiskan waktu berlatih seni peran tanpa kata—dan berhasil membuktikan bahwa cerita tentang perjuangan tetap bisa menyentuh hati, meski tanpa dialog.