KALIMANTAN TIMUR — Pekan ini menjadi titik kritis bagi Keir Starmer. The Guardian, mengutip sejumlah anggota parlemen dan sumber pemerintah, melaporkan bahwa hingga 200 anggota parlemen Partai Buruh akan mendukung Andy Burnham jika ia memutuskan untuk maju dalam pemilihan ketua partai. Angka ini setara dengan hampir separuh dari total kursi Partai Buruh di Dewan Perwakilan Rakyat.
Kekalahan Beruntun dan Titik Kumpul Baru
Tekanan untuk mengundurkan diri meningkat sejak Partai Buruh mengalami kekalahan telak dalam pemilihan lokal pada bulan Mei, kehilangan hampir 1.500 kursi. Puncaknya adalah kemenangan telak Andy Burnham dalam pemilihan sela Makerfield pada 19 Juni lalu. Banyak kader partai melihat hasil ini sebagai momentum untuk perubahan.
Dalam pidato kemenangannya, Burnham menyebut pemilihan sela tersebut sebagai "kesempatan terakhir" bagi partainya untuk membangun "sistem politik baru." Ia memperingatkan bahwa tidak akan ada kesempatan kedua. Sejak saat itu, seruan agar Starmer mundur semakin gencar, tidak hanya dari kalangan akar rumput tetapi juga dari tokoh-tokoh berpengaruh di dalam partai dan kabinet.
Ancaman Intervensi Kabinet dan Peringatan dari Dalam
Situasi semakin genting setelah seorang sumber kabinet menyatakan bahwa beberapa menteri mulai bersiap untuk menyarankan Starmer agar tidak berpartisipasi dalam pemilihan kepemimpinan jika ia tetap bertahan. "Saya rasa semua orang percaya bahwa semuanya sudah berakhir dan menginginkan kepergian ini berlangsung tertib dan bermartabat," kata sumber tersebut kepada The Guardian.
Tokoh-tokoh senior partai bahkan memperingatkan bahwa Starmer dapat menghadapi campur tangan langsung dari kabinetnya sendiri minggu depan jika ia menolak untuk mengundurkan diri atau menerima transisi kekuasaan. Seorang anggota parlemen menambahkan bahwa "hampir semua orang setuju" ia harus "melakukan hal yang benar akhir pekan ini."
Peringkat Popularitas Anjlok di Tengah Krisis
Dukungan publik terhadap Starmer terus merosot tajam di tengah krisis biaya hidup yang berkepanjangan dan dampak dari skandal pemerkosaan berkelompok yang mengguncang Inggris. Jajak pendapat YouGov pada pertengahan Juni mencatat peringkat persetujuannya hanya 18 persen, sementara 74 persen warga Inggris memiliki pandangan negatif terhadap masa jabatannya sebagai perdana menteri.
Sebuah survei Ipsos yang dirilis pekan ini mengonfirmasi tren serupa. Hanya 20 persen responden yang memiliki opini positif terhadap Starmer, sementara 58 persen menyatakan negatif. Sebaliknya, Andy Burnham menjadi politisi Partai Buruh paling populer dengan opini positif 26 persen dan hanya 33 persen yang menilainya negatif.
Sikap Starmer: Siap Bertarung, Namun Terjepit
Meski diterpa badai, Starmer menegaskan pada 20 Juni bahwa ia tidak akan mundur tanpa perlawanan. "Jika ada kompetisi, izinkan saya memperjelas, saya akan berpartisipasi," katanya kepada wartawan. Ia berargumen bahwa perlombaan kepemimpinan justru akan "menjerumuskan kita ke dalam kekacauan."
Pernyataan itu justru memperlihatkan posisinya yang semakin terjepit. Di satu sisi, ia harus menghadapi pemberontakan dari dalam partainya sendiri. Di sisi lain, ia harus membuktikan masih layak memimpin di tengah elektabilitas yang terus merosot. Akhir pekan ini akan menjadi penentu apakah Starmer mampu bertahan atau justru menjadi perdana menteri dengan masa jabatan terpendek dalam sejarah Partai Buruh.