TENGGARONG — Langit sore di atas sawah Mangkurawang berubah warna-warni. Puluhan layangan gapangan dari Bontang, Samarinda, dan tuan rumah Kukar terbang berdampingan, mengisi acara kopdar perdana pelayang se-Kalimantan Timur yang berlangsung sejak Sabtu siang hingga malam.
Ketua Panitia, Andri, menyebut kegiatan ini murni ajang silaturahmi, bukan perlombaan. Para peserta dibebaskan menerbangkan layangannya masing-masing sambil menikmati hembusan angin yang menurutnya sedang bagus.
"Ini agendanya sampai malam, mungkin yang jauh-jauh tembus sampai pagi nginep di sini. Insya Allah nanti malam manjer bersama. Pokoknya anginnya bagus, terus manjer," ujarnya di sela kegiatan.
Manjer Bareng: Tradisi Menerbangkan Layangan Tanpa Target
Andri menjelaskan, istilah manjer merujuk pada aktivitas membiarkan layangan terbang bebas di udara tanpa tujuan tertentu. Aktivitas ini menjadi inti dari kopdar yang digelar di area persawahan tersebut.
"Kalau kegiatannya cuma kopdar bersama saja, manjer bareng. Silaturahmi. Manjer itu layangan dibiarkan terbang," jelasnya.
Kegiatan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya pelayang dari berbagai kabupaten/kota di Kaltim bertemu langsung di Tenggarong. Ke depannya, panitia berencana menjadikan acara ini agenda rutin tahunan dengan lokasi bergiliran.
"Insyaallah ini rutinan setahun sekali. Kalau se-Kaltim nanti mungkin gantian tempatnya bisa di Bontang, bisa di Bukuan. Kalau hari ini kan di sini, di Kota Raja," kata Andri.
Dari Grup WhatsApp ke Pertemuan Langsung
Selama ini, interaksi antarpelayang lintas daerah banyak dilakukan melalui media sosial dan grup WhatsApp. Mereka saling bertukar kabar dan memamerkan layangan masing-masing lewat foto atau video.
Edi, peserta dari Pelayang Kota Bontang, mengaku antusias bisa bertemu langsung dengan rekan sehobi dari daerah lain. Menurutnya, pertemuan tatap muka ini jauh lebih hangat dibanding sekadar berkomunikasi di dunia maya.
"Nah ini ketemu langsung, jadi kita akrab. Biasanya kita kan lewat media sosial, lewat grup WhatsApp. Silaturahminya saling spill layangan masing-masing di daerahnya. Nah, ini ketemu langsung," tuturnya.
Ia menambahkan, meski cuaca sempat tidak menentu, semangat peserta tidak surut. "Masalah cuaca itu urusan yang di atas. Kita sudah prediksi, tapi cuacanya kadang tidak menentu dengan kondisi seperti ini. Setidaknya kita sudah ngumpul sesama sehobi se-Kaltim," katanya.
Layangan sebagai Warisan Budaya dan Hiburan Rakyat
Bagi Edi, bermain layangan bukan sekadar mengisi waktu luang. Di daerah asalnya, Blitar, Jawa Timur, layangan merupakan tradisi turun-temurun yang melekat dengan kehidupan masyarakat, terutama saat musim kemarau tiba.
"Kalau kami dari orang Jawa, layangan ini adalah tradisi. Kalau di daerah kami, khususnya saya di Blitar, setiap rumah pasti ada. Ini hiburan masyarakat ketika kemarau tiba," ungkapnya.
Ia menilai tradisi ini punya nilai pelestarian budaya yang kuat karena sudah ada sejak zaman kerajaan. Daya tariknya juga lintas generasi, dari anak sekolah dasar hingga kakek-kakek yang sudah memiliki cucu.
"Jadi menjadi bagian dari pelestarian kebudayaan kita. Layangan ini kalau dibilang tipe layangannya sendiri, sudah tua. Dari zaman kerajaan sudah ada layangan," katanya.
"Anak muda sampai anak kecil, SD, SMP, sampai yang tua-tua yang sudah punya cucu juga ada yang di sini main. Itu keindahannya di situ," pungkasnya.